Massifnya peredaran narkoba di dalam negeri membuat kesabaran Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso habis. Budi Waseso menyiapkan pelbagai skenario dan strategi memberangus pengedar narkoba. Peredaran narkoba yang banyak masuk melalui jalur laut dihadang, kapal pengangkut narkoba bakal dibom. Tim khusus disiapkan, siap tembak mati pengedar narkoba. Pengedar narkoba yang tertangkap bakal dihukum dengan cara dipaksa memakan semua barang bukti narkoba yang diedarkan.
Tidak sampai di situ, Budi Waseso tengah merancang lembaga pemasyarakatan khusus menampung para bandar dan pengedar narkoba. Lokasinya dipilih di pulau terluar, di tengah hutan yang tak bisa diakses siapapun. Itu saja tidak cukup. Penjaga LP atau lapas bukan hanya manusia, tapi binatang buas. Budi Waseso memilih buaya sebagai bagian dari pengamanan lapas.
"Bandar ditaruh di pulau terluar Indonesia, setiap pagi berikan satu kantong makan dan biarkan mereka hidup di hutan dengan dijaga buaya agar mereka yang mau kabur berfikir ulang," ujar Budi Waseso di kantornya, Jakarta, Jumat (6/11).
Niatan itu ternyata bukan isapan jempol atau sekadar untuk menakut-nakuti. Budi Waseso mulai bergerak mewujudkannya. Kementerian Hukum dan HAM dilobi untuk memuluskan langkahnya membangun lapas khusus pengedar narkoba yang jauh dari 'peradaban'. Gayung bersambut, pemerintah mempertimbangkan dan mengkaji permintaan Budi Waseso.
Seiring itu, Budi Waseso menyiapkan 'pasukan penjaga lapas' yang siap menerkam pengedar narkoba yang berniat kabur dari tahanan. Dia berniat menelusuri pelosok negeri seperti Medan, Papua dan Sulawesi untuk mencari buaya paling ganas.
"Besok saya ke Medan, Papua,dan Sulawesi saya mau lihat penangkaran buaya. Buaya mana yang lebih ganas," ujar Budi usai menghadiri kampanye 'Stop Narkoba' di Jakarta Pusat, Minggu (8/11).
Advertisement
Mantan Kabareskrim ini membuktikan kata-katanya. Rabu (11/11) Budi Waseso bertolak ke Medan, tepatnya ke penakaran buaya di Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan. Di area seluas dua hektar itu ada sedikitnya 2.500 ekor buaya.
"Seluruh bangunan Lapas Narkoba tersebut akan dikelilingi buaya ganas di dalam sebuah telaga yang sengaja dibuat. Jika ada napi yang nakal akan menanggung risiko menjadi korban santapan buaya," kata Budi Waseso.
Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan tidak menghalangi niat Budi Waseso. Luhut memahami maksud Budi Waseso agar lapas pengedar narkoba berada di daerah terpencil dan sulit akses dengan masyarakat.
"Ah itu maksudnya membuat daerah terkontrol tidak terkontaminasi dari luar," kata Luhut di Ancol, Jakarta, Kamis (12/11).
Luhut mengartikan niat mantan Kabareskrim membuat kolam berisi buaya. Menurutnya, Budi Waseso tak bermaksud melakukan pelanggaran HAM. "Tidak murni semuanya buaya lah," kata dia.