Cita-cita Ilham Akbar Habibie (52) memproduksi pesawat terbang produksi Indonesia bukan soal nostalgia. Bukan soal meneruskan impian sang ayah, BJ Habibie, yang berhasil memproduksi pesawat N-250 yang terbang perdana 10 Agustus 1995. Tapi kemudian masuk gudang karena himpitan krisis moneter 1998 dan tekanan Dana Moneter Internasional (IMF). Putra sulung BJ Habibie ini mempunyai visi besar saat membuat proyek pesawat bermesin turbo propeller (baling-baling) yang dinamakan Regio Prop 80 atau disingkat R-80 ini. Pesawat R-80 sendiri merupakan pengembangan pesawat N-250 karya BJ Habibie. Pesawat jarak pendek bermesin turbo propeller (baling-baling) ini didesain mengangkut sekitar 80 orang, daya terbang 25 ribu kaki, kecepatan maksimum 330 knot (605 km per jam), dan jarak tempuh hingga 600 kilometer. “Visi saya, pesawat R-80 menjadi satu produk yang bukan saja yang diperlukan negara. Bukan saja menjadi kebanggaan dan bukti, tapi menjadi contoh bangsa Indonesia mampu memproduksi produk-produk sekompleks R-80,” kata Ilham yang pernah bekerja di pabrik pesawat Boeing Amerika Serikat dan PT Dirgantara Indonesia kepada merdeka.com, dalam wawancara khusus di kantornya, beberapa waktu lalu. Secara lebih jauh, presiden direktur PT Ilthabi Rekatama ini ingin mendorong industrialisasi di Indonesia. Layaknya di situasi ekonomi yang slow down saat ini, yang menjadi motor ekonomi bukan industri yang berbasis sumber daya alam (SDA) atau komoditas, tapi teknologi. “Kita terperangkap dalam pemikiran bahwa Indonesia negara kaya, semua ada. Ngapain membangun industri, mendingan mengkhususkan diri ke yang sudah ada. Itu salah. Komoditas memiliki faktor efek domino tidak besar. Ada industrinya, tapi tidak otomatis menciptakan lapangan kerja dalam jumlah banyak. Ada, tapi tidak sebanyak industri manufaktur. Jadi snow ball effect nya kecil terhadap ekonomi negara, dibandingkan industri manufaktur,” ujar Ilham beralasan. Maka itu, industri manufaktur perlu didorong ke depan di republik ini. Pertimbangan lainnya, industri manufaktur memerlukan supplier, baik untuk produk/barang dan jasa. Dan selanjutnya, jika substitusi suatu produk di pasar dalam negeri tidak ada, terpaksa beli dari luar negeri. Ini bisa menyebabkan neraca dagang negatif, efek terhadap kurs rupiah terhadap dolar AS, dan lain-lain. “Banyak lah seperti kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini. Meski harus diakui juga kurs dolar menguat terhadap rupiah, karena faktor lain juga seperti makro ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat.”
Ilham Habibie ingin dorong industrialisasi pesawat di Indonesia
Putra sulung BJ Habibie ini mempunyai visi besar saat membuat proyek pesawat bermesin turbo propeller.
Advertisement
Rekomendasi