Kisah miris dua bayi meninggal karena kabut asap

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada sembilan orang meninggal dunia.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Kisah miris dua bayi meninggal karena kabut asap
Bayi di Palembang meninggal akibat kabut asap. ©2015 merdeka.com/irwanto

Kebakaran lahan dan hutan masih saja terus terjadi. Sejumlah kota di beberapa provinsi, penduduknya harus hidup dengan berkabutkan asap.Tak cuma kerugian materiil, kerugian nonmateriil juga banyak ditimbulkan akibat bencana ini. Salah satunya adalah kesehatan warga yang terganggu karena harus terus menerus hidup dengan mengisap asap.Bahkan menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada sembilan orang meninggal dunia."Dari sembilan korban meninggal dua di antaranya sepasang suami istri yang terbakar langsung dan sisanya karena paparan tidak langsung yakni menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (11/10).Penelusuran merdeka.com, selain orang dewasa ada juga bayi yang menjadi korban jiwa. Muhammad Husen Saputra, bayi berusia 28 hari, meninggal dunia lantaran mengidap penyakit ISPA.

Husen meninggal dunia setelah menjalani perawatan di instalasi gawat darurat Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Penyakit ISPA yang divonis dokter ternyata membuat anak bungsu dari tiga bersaudara itu akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Selasa (6/10) pukul 19.30 WIB.Kematian bayi yang lahir pada 11 September 2015 itu membuat keluarga tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Apalagi, bayi malang itu meninggal karena terpapar asap."Anak saya sehat dan normal saja waktu dilahirkan. Tiga hari kemarin sesak napas. Kata dokter kena ISPA, tapi sudah parah, Selasa malam kemarin meninggal," ungkap ayah korban Hendra (33), Rabu (7/10).Korban sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum Naga Sewidak, tak jauh dari kediaman orangtuanya di Jalan Talang Banten, Lorong Banten 1, RT01, RW 01, No A39, Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang.Selang berapa hari kemudian, seorang bayi kembali meninggal dunia karena asap. Bayi perempuan malang itu bernama, Arika Patina Ramadhani berusia 1,3 tahun.

Putri pertama pasangan Muhammad Bakri (31) dan Asnayanti (27) itu sempat dirawat di instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit Siti Khadijah, Palembang, Minggu (11/10), sejak pukul 07.00 WIB. Namun, nyawanya tak tertolong lagi setelah dirawat selama sepuluh jam, dan wafat pada pukul 17.00 WIB.Kematian korban membuat keluarga sangat terpukul. Apalagi, penyebabnya karena kabut asap yang menyelimuti Palembang sejak tiga bulan terakhir."Anak saya demam tinggi. Waktu berobat di klinik, dokter bilang anak saya sakit Pernapasan. Saya bawa ke rumah sakit, namun meninggal dunia, dirawat cuma 10 jam," kata ayah korban, Bakri, Senin (12/10).Saat dirawat, Arika mendapatkan sejumlah penanganan dari petugas medis. Mulai dari pemberian obat hingga pemasangan selang oksigen. Namun, kondisinya tidak berubah, tetapi malah memburuk."Kata dokter anak saya sudah parah, kena infeksi paru-paru karena asap. Kemarin sore meninggal," ujar Bakri.Jenazah Arika sudah dimakamkan pihak keluarga di tempat pemakaman umum Kebun Bunga, Palembang, siang tadi. Tujuh hari ke depan, pihak keluarga menggelar pembacaan Surat Yasin di rumah kontrakan mereka, di Jalan Swadaya, Lorong Keluarga, Kelurahan Pakjo, Palembang.

Rekomendasi