Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako

Pembuatan tenun ikat Gunung Mako mulai dari panen kapas, pintal, warna, hingga tenun masih dilakukan secara tradisional.

Iqbal Nugroho
Oleh Iqbal Nugroho - Editor
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Seorang pengrajin saat menenun kain ikat Gunung Mako di Sebanjar, Desa Ternate, Alor Barat Laut, Alor, NTT (6/10). Tenun ikat Gunung Mako merupakan salah satu ciri khas kebudayaan Alor yang telah cukup dikenal masyarakat lokal hingga mancanegara. Pembuatan tenun ikat masih dilakukan secara tradisional, maka wajar saja untuk satu kain membutuhkan waktu 2-3 bulan pengerjaan. ©2015 Merdeka.com/isn
1 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Pembuatan tenun ikat Gunung Mako diawali dengan pemilihan kapas yang kemudian diolah menjadi benang. ©2015 Merdeka.com/isn
2 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Seorang pengrajin menunjukkan kapas yang baru dipetik di kebun sekitar rumah produksi. ©2015 Merdeka.com/isn
3 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Seorang pengrajin membersihkan biji kapas dengan alat tradisional yang biasa disebut Peneha. ©2015 Merdeka.com/isn
4 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Seorang pengrajin menghaluskan kapas yang telah dipisahkan dari biji, proses ini dikenal dengan Benuhu. ©2015 Merdeka.com/isn
5 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Setelah dihaluskan, kapas digulung melalui proses yang biasa disebut Penolo dan kemudian dipintal menjadi benang atau disebut Fidelelu. ©2015 Merdeka.com/isn
6 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Proses pengolahan kapas menjadi benang hingga pewarnaan membutuhkan waktu hingga 1 bulan, tergantung warna dan motif. ©2015 Merdeka.com/isn
7 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Tumbuhan Kolong Susu berada di tengah jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan pewarna dari darat. Kolong Susu digunakan pengrajin sebagai campuran air dan garam untuk membersihkan benang kapas sebelum proses pewarnaan. ©2015 Merdeka.com/isn
8 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Berbagai bahan dasar pewarna yang berasal dari laut, seperti teripang, tinta cumi-cumi, cacing, dan rumput laut. ©2015 Merdeka.com/isn
9 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Benang kapas yang telah melalui proses pewarnaan dasar kemudian diikat sebelum pencelupan warna motif. ©2015 merdeka.com/isn
10 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Seorang pengrajin saat menenun kain ikat Gunung Mako di Sebanjar, Desa Ternate, Alor Barat Laut, Alor, NTT (6/10). ©2015 Merdeka.com/isn
11 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Seorang pengrajin saat menenun kain ikat Gunung Mako di Sebanjar, Desa Ternate, Alor Barat Laut, Alor, NTT (6/10). ©2015 Merdeka.com/isn
12 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Berbagai jenis tenun ikat Gunung Mako di Sebanjar, Desa Ternate, Alor Barat Laut, Alor, NTT (6/10). ©2015 Merdeka.com/isn
13 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Berbagai bahan dasar warna dan jenis tenun ikat Gunung Mako di Sebanjar, Desa Ternate, Alor Barat Laut, Alor, NTT (6/10). ©2015 Merdeka.com/isn
14 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Berbagai jenis tenun ikat Gunung Mako di Sebanjar, Desa Ternate, Alor Barat Laut, Alor, NTT (6/10). ©2015 Merdeka.com/isn
15 dari 15 halaman
Melihat lebih dekat proses pembuatan tenun ikat Gunung Mako
Rumah produksi tenun ikat Gunung Mako tampak dari depan. ©2015 Merdeka.com/isn
Rekomendasi