Cerita 3 aparat merampok karena tak bisa biayai sekolah anak

Pengakuan dari ketiganya bahwa selama menjadi anggota TNI-Polri mereka merasa belum sejahtera.

Parwito
Oleh Parwito - Reporter
Cerita 3 aparat merampok karena tak bisa biayai sekolah anak
TNI dan Brimob bawa kabur duit ATM. ©2015 Merdeka.com/parwito

Perampokan terhadap mobil jasa pengangkut uang PT Advantage senilai Rp 4,8 miliar berhasil diungkap Polda Jawa Tengah. Peristiwa perampokan tersebut terjadi pada Senin (28/9) petang di Jalan Karanganyar Gunung, Kota Semarang menuju Solo.Ternyata pelaku perampokan tersebut seorang anggota polisi dan 2 anggota TNI. Anggota Brimob Srondol Polda Jateng Brigadir Supriyanto dan dua intel TNI AD Kodam IV Diponegoro Jawa Tengah Serda Isaac Karputi serta Sertu Thrisna Prihantoro.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sebelum melakukan perampokan, ke tiga pelaku ternyata sudah merencanakannya selama seminggu sebelumnya."Keterangan sementara dari ketiganya saat kami amankan, mereka sudah merencanakan aksi perampokan yang mereka lakukan," tegas Kanit Jatanras Subdit III Reskrimum Polda Jateng Kompol Agus Puryadi usai gelar perkara di Direskrimum Polda Jateng Jalan Pahlawan Kota Semarang, Jawa Tengah Kamis (1/10) kemarin.Kompol Agus menceritakan meski anggota Brimob Srondol Polda Jawa Tengah Brigadir Supriyanto sudah sebulan melakukan pengawalan jasa pengangkut uang PT Advantage yang berkantor di Jalan Karanganyar Gunung, Kota Semarang. Namun rencana untuk merampok itu baru satu minggu intensif dilakukan.

"Terbukti atas petunjuk dari Brigadir Supriyanto mobil pembawa uang itu selalu diikuti oleh kedua anggota TNI (Serda Isac dan Sertu Thrisna). Mengikuti dan rencana eksekusi tidak pasti di situ di mana tempat mereka berhasil menggasak uang Rp 4,8 miliar," terangnya.Untuk memuluskan rencananya, kedua anggota Denintel Kodam IV Diponegoro (Serda Isaac Karputi dan Sertu Thrisna Prihantoro) itu juga membawa mobil untuk persiapan merampok. "Kontak terus dan mobil sudah disiapkan. Efektifnya selama seminggu," ungkapnya.Lalu aksi perampokan pun nekat dilakukan. Saat mobil yang membawa uang Rp 4,8 miliar melintas di sekitar Penggilingan Padi 'Hendra Setia' di Desa Kwagean, Sugihan, Tengaran, Kabupaten Semarang Senin (28/9) sekitar pukul 18.30 WIB, Brigadir Supriyanto yang mengawal mobil menghubungi Serda Isaac Karputi dan Sertu Thrisna Prihantoro. Kedua anggota TNI itu sudah siap dengan mobil Avanza putih.Saat itu Frendy Agus Irawan yang merupakan karyawan PT Advantage ditodong pistol oleh Brigadir Supriyanto. Sementara kedua anggota Denintel TNI Kodam IV Diponegoro Jawa Tengah langsung memindahkan uang ke mobil mereka yang sudah menunggu di lokasi kejadian.

"Saat beraksi mereka memakai masker. Yang turun dari mobil Avanza Serda Isaac membentak korban Frendy Agus Irawan,'Sudah menikah belum kamu? Kemudian Sertu Thrisna sebagai sopir sudah menunggu di dalam mobil Avanza tersebut," tuturnya.Sebelum membawa kabur uang Rp 4,8 miliar Brigadir Supriyanto sempat mengikat tangan dan membekap mulut Frendy Agus Irawan dengan lakban. Brigadir Supriyanto juga sengaja meninggalkan senpi laras panjang jenis SS1 yang dibawanya.Berhasil merampok, ketiganya lalu membawa kabur 11 tas berisi uang senilai Rp 4,8 miliar ke sebuah penginapan di wilayah Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sampai di save house tersebut, uang yang dibawa dalam 11 koper itu kemudian dikeluarkan. Ke-11 koper kemudian dibakar untuk menghilangkan jejak."Begitu duit dapat, dibawa ke save house Colomadu, Karanganyar bertiga. Kemudian malam harinya uang dilepas dibuka dari 11 bag (tas koper) milik PT Advantage. Kemudian setelah dilepas dari koper, kopernya dibakar. Dibelikan koper sama tas yang sekarang," tegas Kompol Agus.

Tim Polda Jateng dan Denintel Kodam IV Diponegoro, Jawa Tengah akhirnya berhasil menangkap Serda Isaac Karpitu di kawasan Hotel Srondol Indah Jalan Setia Budi, Kota Semarang, Jawa Tengah."Serda Isaac saat saya tangkap mengaku telah menyimpan uang di Hotel Srondol Indah (SI) Rp 1,3 miliar. Kemudian kita periksa lagi dia menunjukkan tempat di mana Brigadir Supriyanto berada," ungkapnya.Saat Serda Isaac diamankan, ternyata Brigadir Supriyanto dan Serti Thrisna sudah melarikan diri dan tidak ada di Hotel Srondol Indah."Brigadir Supriyanto sedang bergabung dengan Sertu Thrisna. Tidak kami temukan juga di save house Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Namun, sebagian uang milik PT Advantage sebanyak dua koper disimpan di save house kami temukan," paparnya.Pengejaran terus berlanjut, hingga akhirnya pada hari ke tiga Sertu Thrisna Prihantoro ditangkap di Kawasan Wisata Bandungan. Sertu Thrisna dihadang saat melintas di kawasan sedang mengendarai Ninja Kawasaki berwarna biru putih.

Hingga akhirnya, penangkapan terakhir dilakukan oleh tim Polda Jateng dan Denintel Kodam IV Diponegoro Jawa Tengah terhadap Brigadir Supriyanto yang hendak melarikan diri di wilayah Yogyakarta usai mendapat pengakuan dari Sertu Thrisna."Saat tertangkap Brigadir Supriyanto membawa uang tunai Rp 800 juta dan Sertu Thrisna membawa uang tunai Rp 600 juta dan sebagian uangnya sudah dibelikan motor," ucapnya.Menurut Agus, total uang yang dirampok oleh ketiganya itu sekitar Rp 4,88 miliar."Total 4,883 miliar. Total dirampok menurut pengakuan mereka 'molah-malih' (berubah-ubah pengakuannya). Jadi jika ada laporan dari pihak PT Advantage sebesar Rp 5,7 miliar jauh jumlahnya," terangnya.Hingga kini tim Polda Jateng dan Denintel Kodam IV Diponegoro Jawa Tengah masih mendalami kasus perampokan tersebut. Hal ini karena dari laporan resmi PT Advantage Kota Semarang, kerugian dalam aksi perampokan itu sebesar Rp 5,7 miliar.

Lalu apa yang melatarbelakangi tiga aparat itu nekat merampok?"Motif, ingin hidup mewah. Alasan hidup mewah yang menjadikan ketiganya menempuh jalan yang dilarang dan memalukan kesatuannya masing-masing," terang Kompol Agus.Kompol Agus yang ikut dalam pengejaran dan penangkapan selama tiga hari itu mendapatkan pengakuan dari ketiganya bahwa selama menjadi anggota TNI-Polri mereka merasa belum sejahtera. Sampai-sampai terucap omongan dari pelaku perampokan itu bahwa hidupnya pas-pasan hingga kesulitan untuk membayar anaknya sekolah."Yang tersirat pada saat penangkapan, hidup saya susah. Mau bayarin anak sekolah saja susah. Nekat saya. Tapi kan itu pelanggaran berat bagi kesatuan," ucap Kompol Agus.Ketiga pelaku masing-masing memperoleh bagian Rp 1,3 miliar untuk Isaac, Rp 1 miliar untuk Thrisna dan Rp 2,5 miliar untuk Supriyanto. Saat ini, kata dia, peran sekaligus hubungan ketiga orang pelaku tersebut masih didalami.Atas perbuatannya, para pelaku akan dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian.

Rekomendasi