Dokter sebut siswi yang dikeroyok temannya tewas karena infeksi paru

"Karena trombosit rendah, maka terjadi infeksi pada paru, dan juga pembengkakan paru atau broncho phenumoni," katanya.

Afif
Oleh Afif - Reporter
Dokter sebut siswi yang dikeroyok temannya tewas karena infeksi paru
Ilustrasi mayat. ©2014 Merdeka.com

Kasus meninggalnya Nurul Fatimah (11), siswi Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN), Keunaloi, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar masih menyimpan misteri. Akan tetapi, pihak Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), Banda Aceh menyimpulkan bocah tersebut meninggal karena mengalami infeksi paru serius.Sebelum dilarikan ke RSUZA, Banda Aceh, Nurul sempat dirawat di rumah sakit satelit, Puskesmas Seulimum, Aceh Besar karena demam tinggi, Kamis (24/9). Akan tetapi pihak Puskesmas tidak mampu menanganinya, hingga dirujuk ke RSUZA, Banda Aceh.Wakil Direktur RSUZA bidang Pelayanan Medik, Dr dr Azharuddin, SPOT, K (spine) menjelaskan, hasil rekam medis meninggalnya Nurul akibat infeksi paru serius. Tidak menemukan adanya bekas penganiayaan.Lanjutnya, ini bisa saja terjadi bisa seseorang makan tidak teratur, tidur terlalu lama. Selama seseorang tidur tidak mau makan dan minum dalam jangka waktu yang lama. Akibatnya trombosit menjadi rendah."Karena trombosit rendah, maka terjadi infeksi pada paru, dan juga pembengkakan paru atau broncho phenumoni," kata Azharuddin, Selasa (29/9) di Banda Aceh.Hal yang belum diketahui oleh tim dokter RSUZA, katanya, penyebab pasien yang meninggal itu tidur terlalu lama. Karena secara psikologis, seseorang mendiamkan diri dalam jangka waktu lama dipastikan memiliki sebab."Tidak makan, minum ini penting diketahui, karena bisa saja faktor stress hingga tidak mau makan," jelasnya.Saat Nurul dirawat di RSUZA pada tanggal 26 Desember 2015, pihak RSUZA tidak menemukan adanya ciri-ciri penganiayaan. Jika pun ada terjadi, bekas penganiayaan itu akan hilang sendirinya bila kejadiannya sudah lebih dari 10 hari."Tidak ada tanda-tanda ada bekas penganiayaan di tubuh Nurul," tukasnya.Kendati pun demikian, pada siku kiri Nurul mengalami retak. Namun pihak rumah sakit tidak mengetahui penyebab retak tulang itu. "Kalau mau memastikan ada penganiayaan, harus
ditanyakan sama yang merawat pertama sekali," jelasnya.Katanya, saat Nurul masuk RSUZA sudah dalam kondisi sangat kritis, karena trombosit pasien sangat rendah. Namun dokter spesialis anak dr Munthadar dan dr TM Thayib sudah berusaha keras untuk menyelamatkan bocah yang masih duduk kelas 6 MIN itu."Kami tidak lebih 24 jam menangani Nurul, kondisinya sangat kritis. Bahkan kita langsung lakukan transfuse darah, namun kondisi kesehatannya terus menurun hingga tak tertolong lagi," ungkapnya.Untuk memastikan apakah ada penganiayaan. Jalan satu-satunya sekarang adalah melakukan autopsi secara menyeluruh pada jenazah tersebut. Sehingga bisa mendapatkan rekam medis dan membuktikan ada atau tidak penganiayaan."autopsi jalan satu-satunya sekarang," tutupnya.

Rekomendasi