Ini asal mula banyak warga Afrika di Tanah Abang

Warga setempat mengaku was-was dengan banyaknya orang Afrika di Tanah Abang dan sekitarnya.

Marselinus Gual
Oleh Marselinus Gual - Reporter
Ini asal mula banyak warga Afrika di Tanah Abang
Afrika Tanah Abang. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Di kawasan Tanah Abang dan Petamburan, Jakarta Pusat, banyak ditemukan warga Afrika berkeliaran. Kebanyakan dari mereka mengaku sebagai pedagang busana yang sering mengambil barang dari pusat grosir tersebut. Mereka sudah tinggal bertahun-tahun di Indonesia.Sudah lama menetap di Indonesia bukan jaminan untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Hal itulah yang dialami oleh WNA asal Afrika yang diminta oleh sebagian warga di Petamburan untuk angkat kaki dari tempat mereka lantaran takut dengan wajah dan tampang mereka yang seram. Kisah ini dituturkan Kapolsek Tanah Abang, AKBP Harry Sulistiadi kepada merdeka.com di Polsek Tanah Abang, Jakarta, Rabu (24/9). "Ada laporan dari warga dusun belakang, mereka nggak suka orang Afrika tinggal di situ. Mungkin karena melihat wajah mereka yang sangar ya," kata Harry di sela-sela kesibukannya siang itu di ruang kerjanya di Polsek Tanah Abang. Memahami apa yang ditakuti warga tersebut, dan tanpa mengabaikan hak warga Afrika yang sudah bertahan-tahun menetap di tempat itu, Harry dan jajarannya pun mempertemukan kedua belah pihak untuk mencari solusi yang terbaik. Dari pertemuan dan komunikasi kedua pihak, warga Afrika yang bergerak di usaha dagang ini pun berbesar hati dan mau dipindahkan."Kejadiannya sekitar tiga empat bulan yang lalu. Kita kumpulkan mereka dengan warga setempat dan negosiasi. Hasilnya, mereka minta warga pindah dan disetujui oleh warga asal Afrika itu," kenang Harry. Keberadaan orang Afrika di Petamburan hampir tidak diketahui secara pasti. Seperti dilansir dari situs Wikipedia, orang berkulit hitam pertama kalinya disebut sebagai Belanda Hitam. Mereka ini adalah tentara Belanda yang diambil dari para budak Afrika. Kala itu, Belanda Hitam (bahasa Belanda Zwarte Hollanders) adalah sebutan untuk tentara Hindia Belanda yang berasal dari budak-budak yang didatangkan dari Afrika.Mulai tahun 1830, di Pantai Emas (sekarang Ghana) Afrika Barat, Belanda membeli budak-budak, dan melalui St George d’Elmina dibawa ke Hindia Belanda untuk dijadikan serdadu. Untuk setiap kepala, Belanda membayar f 100,- kepada Raja Ashanti. Sampai tahun 1872, jumlah mereka kemudian mencapai 3.000 orang dan dikontrak untuk 12 tahun atau lebih.Berdasarkan Nationaliteitsregelingen (Peraturan Kewarganegaraan), mereka masuk kategori berkebangsaan Belanda, sehingga mereka dinamakan Belanda Hitam (zwarte Hollanders). Karena mereka tidak mendapat kesulitan dengan iklim di Indonesia, mereka menjadi tentara yang tangguh dan berharga bagi Belanda, dan mereka menerima bayaran sama dengan tentara Belanda. Namun mereka harus mencicil uang tebusan sebesar f 100,- dari gaji mereka. Sebagian besar dari mereka ditempatkan di Purworejo. Tahun 1950, sekitar 60 keluarga Indo-Afrika dibawa ke Belanda dalam rangka repatriasi.Para Keluarga Indo-Afrika yang masih menetap di Indonesia sebagian besar menetap di Pulau Jawa.

Rekomendasi