Setelah keluarga menyatakan Desty Anggraini tidak bisa dihubungi usai pamit pergi mondok ke Ciamis, Jawa Barat, tiba-tiba muncul sebuah pengakuan dari mahasiswi Universitas Sriwijaya Palembang itu. Namun, kemunculan dara 21 tahun tersebut melalui akun media sosial Facebook dengan nama UmmuSumayyah. Dalam tulisan yang dia unggah pada Kamis (20/8) lalu, dia membantah bahwa kepergiannya ke Ciamis karena bergabung dengan ISIS.Selain itu dia mengatakan bahwa ingin belajar ilmu agama dan menghafal Alquran di Pondok Pesantren Tahfidz Alquran Anshorulloh. Di akhir tulisannya, Desty tak lupa menyampaikan permintaan maaf atas semua keputusannya tersebut.Namun, semua pernyataan Desty di FB diragukan oleh pihak keluarga. Mereka menilai, tulisan tersebut bukan murni dari Desty melainkan ada campur tangan dari pihak-pihak dan kepentingan tertentu.
Advertisement
Nurhasanah (42), ibu Desty, mengaku sudah membaca isi pernyataan tersebut yang ditunjukkan salah satu saudaranya. Dia sangat terkejut dengan kata-kata Desty yang begitu luwes dan gamblang membicarakan tentang Islam.Menurut dia, kalimat yang tertulis tersebut bisa saja dibuat karena ada arahan atau tekanan pihak-pihak lain agar terkesan benar adanya dan memojokkan pihak-pihak lain."Alhamdulillah sudah baca, tapi kami tidak percaya penuh kalau itu ditulis Desty sendiri. Pasti ada orang yang mengarahkannya, ada orang di balik itu, tidak tahu siapa," ungkap Nurhasanah saat merdeka.com menyambangi rumahnya di Jalan Sutan M Mansur, Lorong Alir, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Jumat (21/8).Nurhasanah juga membantah keras jika dirinya memberikan pernyataan karena diberi arahan atau dituntun wartawan. Kalimat-kalimat itu murni dari mulutnya sendiri dengan kesadaran penuh.
Advertisement
Ini bantahan dari tulisan Desty yang menyebut ibunya tidak mungkin bisa berbicara soal gerakan radikal tanpa dituntun."Itu memang saya yang ngomong, tidak ada yang menuntun atau diarahkan. Karena saya tahu bagaimana Desty di rumah," tegasnya.Sebagai seorang ibu, kata Nurhasanah, sangat wajar ada kekhawatiran jika anaknya terlibat dalam hal-hal yang bertentangan dengan agama dan negara sehingga justru merugikan diri sendiri."Pinginnya yang wajar-wajar saja, saya malah bangga kalo mau hafal Alquran. Tapi harus yang benar dan jelas, jangan bikin bertanya-bertanya," kata dia."Mending kalo menjelaskan, tapi malah membantah. Maunya sendiri saja, tidak memikirkan keluarga," sambungnya.
Advertisement
Lebih lanjut Nurhasanah mengatakan, hingga kini dia belum ada komunikasi dengan Desty. Baru kemarin sore, Desty menghubungi keluarganya melalui telepon yang menjelaskan tentang isu yang beredar."Cuma nelepon uwaknya, itu pun sebentar. Kalau ngubungi saya belum ada," katanya.Tidak hanya soal tulisan Desty di FB yang membuat ragu keluarga. Bahkan, pondok pesantren yang disebut oleh Desty pun mereka masih ragu dan mempertanyakan masalah peraturannya.Sebab, dengan mudahnya menerima santri tanpa diketahui asal-usulnya. Terlebih tidak ada rekomendasi dari pihak keluarga atau persyaratan lainnya."Biasanya kan diantar oleh keluarga, paling tidak ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, surat dari orangtua atau apalah. Tapi ini sama sekali tidak ada," ujar ayah Desty, Maryanto (49).
Advertisement
Tak hanya itu, keluarga juga bingung dengan biaya pendidikan selama Desty belajar di sana. Apakah tidak dibebani atau ada donator. Sebab, saat berangkat, Desty hanya membawa uang Rp 50 ribu, sedangkan ongkos ditanggung pihak pondok."Kalau pun ada beasiswa kan biasanya ada prosedurnya. Tidak mungkin cuma mondok saja, digratiskan begitu saja," kata dia.Sementara Nurhasanah, ibu Desty mengaku pernah berkomunikasi dengan salah satu pengajar pondok tersebut. Tujuannya, untuk meminta bantuan agar menyuruh Desty pulang terlebih dahulu dan menjelaskan apa yang terjadi.Namun, jawaban pengajar saat itu justru membuat pihak keluarga makin bertanya-tanya. Pihak pondok dengan tegas menuturkan, Desty bukanlah tanggungjawab mereka karena dia datang sendiri dan tanpa diundang kehadirannya. Bahkan, pondok menyuruh pihak keluarga menjemput Desty untuk pulang."Seharusnya kan tidak begitu. Bagusnya, Desty itu diarahkan, dinasihati dulu, karena yang meminta ini ibunya, bukan orang lain, tujuannya untuk kuliah lagi. Ini malah nyuruh kami yang jemput sendiri," tuturnya.
Advertisement
Nurhasanah mengatakan sudah berencana menjemput anaknya. Namun, masih bermusyawarah dengan keluarga karena keterbatasan biaya."Ya, ongkosnya kan besar, kami tidak punya. Mau rembukan keluarga dulu," katanya.Dia pun hanya berharap agar putri nya tersebut segera pulang untuk melanjutkan kuliahnya."Itu saja yang kami minta. Pulang dulu, lanjutkan kuliah, kasihan adik. Kami berharap dia sukses dan bisa mengajar nantinya, tidak lebih dari itu," harapnya.