Demi kehidupan yang nyaman di hari tuanya, Edi Gombloh sudah menabung sejak dia masih muda dan berjaya. Dia juga hidup sederhana di Jakarta, bahkan tetap naik angkot ketika bepergian.
Hal tersebut diungkapkan Gombloh ketika ditemui merdeka.com di rumahnya Tempel, Sleman, Selasa (7/7). Menurutnya sejak muda dia tidak pernah menghambur-hamburkan uang untuk bersenang-senang.
"Saya itu nggak pernah gengsi. Dulu kalau habis manggung dengan teman di tempat hiburan, teman-teman terus minum di sana. Duit bayaran langsung habis malam itu juga. Kalau saya nggak mau, saya punya istri dan anak yang menunggu di rumah," katanya.
Jika bepergian ke mana-mana Gombloh pun memilih naik angkot. Dia tidak pernah malu jika naik angkot berdesakan dengan orang lain. Sementara beberapa temannya tidak mau naik angkot dan memilih naik taksi.
"Merokok saya itu tidak, minum juga tidak, daripada untuk sesuatu yang tidak berguna mending ditabung atau investasi. Saya bisa seperti itu karena saya dulu itu ikut Pramuka, kalau dulu namanya Pandu," ungkapnya.
Di masa jayanya, Gombloh pernah mendapat upah Rp 2juta untuk satu episode pada tahun 1980. Di masa itu jumlah tersebut sudah sangat besar.
"Itu rekor saya. Kalau sekarang nggak ada apa-apanya. Tapi dulu itu sudah besar sekali," tambahnya.
Tidak hanya hemat dan menabung, dia juga berinvestasi di bidang properti. Saat ini dia masih memiliki beberapa rumah kontrakan di Jakarta.
"Kalau sekarang memang ya jual beli juga. Dulu dibeli, sekarang dijual. Masih ada beberapa rumah yang dikontrakan di Jakarta, tapi ya itu untuk hidup di Yogya. Untungnya saya kemarin operasi mata pakai BPJS jadi gratis," tandasnya.