Kerusakan lingkungan ulah para pendaki gunung

Minimnya pengetahuan pendaki jadi pemicu kerusakan ekosistem di gunung.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kerusakan lingkungan ulah para pendaki gunung
Pendakian Semeru. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Human destruction atau kerusakan lingkungan akibat ulah dari manusia kali ini banyak ditemukan di gunung. Bukan hanya dibuat oleh para pendaki pemula, namun terkadang juga dilakukan mereka yang sudah lama memiliki hobi mendaki gunung.Salah satu contoh terdekat, Gunung Cikuray. Gunung yang secara administrasi terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini sudah sejak lama menjadi favorit para pendaki. Sayangnya, semakin banyak pendaki yang menginjakan kakinya di sana, malah semakin banyak sampah yang berserakan.Petugas di pos nol pendakian, atau di gerbang pintu masuk biasanya mendata barang yang dibawa oleh para pendaki. Para pendaki selalu dihimbau untuk membawa kembali sampah dari barang atau makanan yang dibawanya ke dalam kawasan gunung. Pendataan di awal keberangkatan tersebut bertujuan untuk agar dapat melakukan pendataan ulang ketika keluar dari kawasan gunung. Apakah si pendaki membawa kembali sampahnya atau tidak. Namun, pada kenyataanya, salah satu petugas di pintu gerbang kawasan Gunung Cikuray, Doddy mengaku bahwa hanya segelintir orang yang membawa sampahnya kembali turun bersama si pendaki."Aduh, paling dari 10 rombongan cuman ada satu rombongan yang bawa turun lagi sampahnya," ungkap Doddy saat dihubungi oleh merdeka.com.Satu minggu sekali biasanya dia melakukan penyisiran ke tiap-tiap jalur yang dilalui pendaki. Dia mengaku masih saja melihat ada sampah yang berserakan dimana-mana. Bahkan, di puncak gunung pun ia melihat tumpukan sampah yang dibakar atau dibiarkan begitu saja. Dia menuturkan, bahwa benar itu memang tanggungjawabnya sebagai petugas yang dibayar untuk menyisir dan mengangkut sampah yang ditinggalkan pendaki. Kendati begitu, dia meminta agar para pendaki juga sadar bahwa kelestarian alam itu patut diperhatikan.Doddy berharap semoga nantinya, para pendaki gunung akan semakin mencintai alam dan tidak lagi membuang sampah dimana saja."Tolong bawa trash bag khusus buat sampahnya, gitu, kalau enggak ada, kita menyediakan kok," tuturnya.Selain masalah sampah yang berserakan, masalah buah hajat menjadi kendala yang dihadapi petugas keamanan gunung. Percaya atau tidak, sebetulnya jika para pendaki ini mengerti dan mau mencari tahu mengenai teknis untuk buang air besar di gunung, mereka tidak akan membuang kotorannya sendiri dimana saja.Perlu Anda ketahui, dua masalah diatas dapat berdampak pada ekosistem di gunung. Salah satunya Leontopodium atau Anaphalis Javanica atau yang sering kita kenal dengan sebutan Edelweis atau bunga keabadiaan.Jenis tanaman ini sudah dilindungi oleh undang-undang. Karena kelangkaannya, Edelweis yang hanya bisa tumbuh apabila terkena sinar matahari langsung ini tidak boleh dipetik dan apalagi dicabut hingga keakar-akarnya.Bunga yang biasa tumbuh di ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut ini selain langka juga dikenal memiliki mitos. Salah satu yang terkenal adalah bagi mereka yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi.Percaya atau tidak, banyak orang yang percaya dengan mitos ini dan memilih memetik bunga ini untuk dipersembahkan kepada pasangannya. Beberapa pendaki yang menjadi narasumber merdeka.com memberikan kesaksian, bahwa mereka pernah melihat banyak bunga edelweis di beberapa gunung di daratan Jawa terdapat bekas petikan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.Perlu diketahui, ketika bunga edelweiss dipetik, maka mereka sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk tumbuh. Maka, bijaklah pada mereka!

Rekomendasi