Mahasiswa cemooh wartawan, demo Harkitnas di Semarang ricuh

"Wartawan ojo dobol (wartawan jangan bohong)," teriak Ari di depan sejumlah wartawan.

Parwito
Oleh Parwito - Reporter
Mahasiswa cemooh wartawan, demo Harkitnas di Semarang ricuh
Mahasiswa dan wartawan bentrok di Semarang. ©2015 Merdeka.com

Unjuk rasa memeringati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) oleh sejumlah aliansi mahasiswa di depan Gedung Pemprov dan DPRD Jateng, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jawa Tengah, diwarnai kericuhan. Dalam aksi tersebut, salah seorang mahasiswa pendemo dituding melecehkan dan mencemooh wartawan yang sedang melakukan peliputan hingga memicu terjadinya keributan.Kericuhan yang melibatkan massa dari mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung (Unissula) Kota Semarang dengan sejumlah wartawan terjadi ketika Ari, salah seorang peserta demo, membentak dan mencaci maki wartawan yang sedang melakukan tugas peliputan."Wartawan ojo dobol (wartawan jangan bohong)," teriak Ari di depan sejumlah wartawan sambil menenteng spanduk bertuliskan ‘Perbaiki Atau Turun’.Sontak, teriakan bernada provokasi itu menimbulkan reaksi keras dari belasan wartawan yang ada di lokasi aksi unjuk rasa tersebut. Dengan didampingi petugas kepolisian, Ari pun dituntut untuk menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah wartawan yang ada di lokasi kejadian.Namun, saat Ari akan dibawa menuju ke tempat yang lebih tenang, sejumlah rekannya yang salah paham justru menyerbu dan berusaha menarik Ari kembali. Aksi dorong-mendorong pun terjadi dan berlangsung sengit antara sejumlah wartawan dan mahasiswa Unissula Semarang. "Dia itu mencemooh, sama aja melecehkan profesi kami,” kata salah seorang wartawan di lokasi unjuk rasa diwarnai keributan itu.Beruntung, keributan kecil tersebut belum sempat berujung pada aksi anarkis atau bentrokan yang parah lantaran langsung dilerai oleh puluhan petugas kepolisian.Entah motif apa yang membuat Ari, mahasiswa berbadan gempal itu nekat melontarkan kalimat tersebut. Ari tidak ingin pengunjuk rasa dari kubunya dinilai ikut membakar ban dan melakukan pemblokiran jalan.Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah Isdiyanto menyesalkan insiden tersebut. "Pernyataan yang keluar dari mahasiswa itu sangat tidak pantas. Itu menunjukkan bahwa dia tidak memahami dan tidak mengetahui peran dan kerja pers yang bekerja di bawah perlindungan undang-undang dan Kode Etik Jurnalistik," tegasnya.Mahasiswa, menurut Isdianto, seharusnya mengedepankan intelektualitas dan tidak mempraktikkan sesuatu yang di luar nalar. Menurut dia, ejekan terhadap seorang jurnalis dapat dibawa ke ranah hukum."Tentu kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait dan mendalami kasus ini. Jika memang ada pelanggaran berat, maka tidak menutup kemungkinan akan dibawa ke ranah hukum," jelasnya.

Rekomendasi