Demo Hakitnas, IMM Jatim sebut Jokowi-JK 'mucikari

Para aktivis mahasiswa ini juga membaca puisi, menyanyikan lagu Darah Juang dan Buruh Tani.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Demo Hakitnas, IMM Jatim sebut Jokowi-JK 'mucikari
Ilustrasi Demo. ©2015 Merdeka.com

Peringati Hari Kebangkitan Nasional, ratusan mahasiswa tergabung Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur turun jalan, Rabu siang (20/5). Para mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa Timur ini, menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur dengan sendirinya atau dilengserkan.Aksi di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jalan Gubernur Surya itu, dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Dalam aksinya, selain berseragam merah dan membawa bendera kebesaran warna merah, yang dimaksudkan warna keberanian, mereka juga membawa berbagai spanduk dan poster kecaman.Poster-poster itu bertuliskan, Jokowi-JK (Jusuf Kalla) Mucikari Indonesia, Jokowi-JK Antek Kapitalis dan sebagainya. "Warna merah adalah simbol keberanian untuk menyuarakan kebenaran, warna merah adalah darah yang siap tertumpah," kata salah satu orator memberi semangat pada para demonstran.Para aktivis mahasiswa ini, juga membaca puisi, menyanyikan lagu Darah Juang dan Buruh Tani untuk terus mengobarkan semangat perlawanan.Tiga orang juga terlibat aksi teatrikal menggambarkan masyarakat miskin yang terus-terus tertindas. Dua orang dengan muka dicat merah dan membawa gambar pulau-pulau di Indonesia berebut uang yang ditaburkan di atas jalanan oleh seseorang.Menurut para demonstran, Rezim Jokowi-JK telah menyandera kebenaran-kebenaran hukum di negeri ini. Hal itu dibuktikan dengan kasus KPK versus Polri."Ini membuktikan, bahwa seluruh koruptor dilindungi oleh Rezim Jokowi-JK. Mereka juga menyerahkan harga minyak kepada pasar. Ini bukti pengkhianatan undang-undang.""Sumber alam dan isinya adalah menjadi hak rakyat. Tapi nyatanya, kebijakan-kebijakan Jokowi-JK makin menyengsarakan rakyat. Pendidikan murah juga hanya menjadi mimpi kaum proletariat. Jokowi-JK adalah antek kapitalis," teriak Korlap Aksi, Arif dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).Tak hanya itu, aksi blusukan Jokowi yang selama ini dilakukan, hanya sebuah alibi untuk meraih simpati rakyat. "Alibi blusukan hanya kedok Jokowi. Masyarakat harus bergerak, karena apa yang terjadi, dengan gaya blusukan, kita dibodohi pemerintah. Jokowi-JK telah berselingkuh dengan kapitalis," teriaknya lagi.Mereka juga menilai, pemerintah tidak benar-benar menjalankan kebijakan yang pro rakyat. "Karena itu, kita siap menggeser posisi presiden dari kedudukannya saat ini, kalau Jokowi tidak benar dalam kebijakannya. Saat ini, harga BBM (bahan bakar minyak) mahal, biaya pendidikan juga mahal, adalah salah satu bukti ketidakbenaran Jokowi menjalankan kebijakannya," tandas Arif.Sementara itu, pihak kepolisian dari Polrestabes Surabaya mengawal ketat jalannya aksi. Gedung Grahadi dipagari pagar berduri dan dijaga ketat beberapa personel polisi. Sebagian memagar betis area aksi, sebagian juga mengatur arus lalu lintas, agar tidak mengalami kepadatan.

Rekomendasi