Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (NU) Amerika, Akhmad Sahal memprotes pendapat yang melarang membaca Alquran dengan langgam atau irama Jawa. Menurutnya, cara membaca tersebut tidak boleh dituding sebagai perbuatan tak menghargai Alquran."Saya ingin menanggapi keberatan @syarifbaraja terhadap pembacaan Alquran langgam Jawa. Enggak setuju Alquran dengan langgam non-Arab itu sah-sah aja. Tapi @syarifbaraja memvonis langgam tersebut sebagai tak menghargai Alquran. Di situ soalnya," tulis Akhmad Sahal dalam akun twitternya @sahaL_AS, Minggu (17/5).Menurutnya, hukum membaca Alquran harus sesuai dengan tajwid dan tak mengubah makna. Namun, tidak ada dalil yang mewajibkan harus dibaca dengan langgam Arab."Baca Alquran harus tartil, kata Alquran: bener tajwidnya dan tak mengubah makna. Langgamnya seperti apa, tak diatur Alquran. Membaca Alquran adalah ibadah, tapi tak ada dalil yang mewajibkannya harus dibaca dengan langgam Arab dan yang haramkan non-Arab. @syarifbaraja," terang dia."Langgam pembacaan Alquran adalah ranah budaya, bukan ibadah murni. Dalam ranah tersebut, selama tak dalil yang haramkan berarti boleh. Tujuan baca Alquran kan untuk meresapinya dan memahami maknanya. Kalau langgam non-Arab bisa dipakai sarana untuk itu, apa salahnya? Keknya @syarifbaraja alergi dengan budaya non-Arab. Padahal Alquran sendiri tak alergi dengan bahasa non-Arab," tambah dia.Lanjut dia, Alquran juga memkakai sejumlah kata yang bahasanya dari luar Arab. Kata-kata itu diserap ke dalam bahasa Arab, sehingga anggapan membaca Alquran dengan langgam Jawa salah itu tidak benar."Dalam Alquran kita bisa temukan sejumlah kata yang asalnya non-Arab, kek sijjil, misykah, qistas dll. Kata-kata non-Arab tersebut diserap dan jadi bagian dari bahasa Arab (tasyarrub). Itu bukti bahwa Alquran tak alergi dengan yang non-Arab. Kalau kata-kata yang asalnya dari non-Arab saja ada di Alquran, apa dasarnya anggapan @syarifbaraja langgam bacaan non-Arab tak hormati Alquran?" ujar dia.
Advertisement
Intelektual muda NU ini menegaskan jika Islam nusantara tidak mengesampingkan budaya lokal. Namun, dia juga tidak melarang jika ada orang yang berbeda pandangan."Beda dengan Wahabi, Islam Aswaja tak berangus budaya dan kearifan lokal. Justru dipakai sebagai dasar pertimbangan hukum. 'Islam nusantara' adalah bentuk apresiasi budaya lokal dalam ber-Islam. Prof Hasbi As Shiddiqi menyebutnya 'Fiqh Indonesia'. Kalau @syarifbaraja pengen ber-Islam ala Arab yo monggo (silakan). Tapi jangan lantas memvonis yang enggak seperti itu sebagai berlawanan dengan Alquran," turur dia."Problem utama @syarifbaraja: menjadikan pemahamannya terhadap Alquran sebagai standar yang sesuai dengan Alquran, dan yang beda dengannya sebagai kontra Alquran. Cara berpikir yang jadikan dirinya sebagai standar kek gitu dulu dipraktikkan Khawarij. Hasilnya: gampang mengkafirkan dan membunuh si 'kafir'. Silakan kalo @syarifbaraja enggak suka langgam non-Arab sebagai bacaan Alquran. Tapi tak lantas itu paling Qurani. Yang setuju juga punya dalil," pungkas dia.Diketahui, penggunaan langgam Jawa dalam tilawah masih menjadi perdebatan. Seperti lantunan ayat suci AlQuran yang dibacakan qori Muhammad Yasser Arafat di Istana Negara pada Jumat (15/5) lalu.Sang qori membaca ayat suci AlQuran dengan langgam Jawa dalam acara peringatan Isra Miraj di Istana Negara. Qori Yasser Arafat membaca Surah An Najm ayat 1-15 dengan langgam Jawa.Boleh atau tidaknya masih menjadi perdebatan. Ide menggunakan langgam Jawa ternyata datang langsung dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. "Tujuan pembacaan Alquran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air," kata Lukman.