Menag tertarik tilawah langgam Jawa saat mendengar di haul Gus Dur

Dalam waktu dekat, Kemenag akan menggelar seminar yang membahas soal cara membaca Alquran dengan langgam Jawa ini.

Muhammad Zul Atsari
Oleh Muhammad Zul Atsari - Reporter
Menag tertarik tilawah langgam Jawa saat mendengar di haul Gus Dur
Haul Gus Dur. ©2014 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Perdebatan muncul setelah acara Isra Miraj di Istana Negara pada Jumat (15/5) lalu menampilkan qori yang membaca Alquran dengan langgam Jawa. Untuk mengakhiri kontroversi, Kementerian Agama akan menggelar seminar yang akan membahas hal itu dalam waktu dekat."Dalam waktu dekat saya akan membuat seminar, saya undang yang pro dan kontra mungkin ada seniman juga," kata Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Machasin saat ditemui merdeka.com, di kantornya, Jakarta, Senin (18/5).Machasin mengungkapkan, ide menampilkan pembacaan Alquran dengan langgam Jawa itu merupakan keinginan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. "Idenya Pak Menteri dan yang mencari orangnya itu saya," jelas dia.Machasin menuturkan, Menteri Agama tertarik dengan lantunan Alquran dengan langgam Jawa pada saat dia menghadiri acara haul atau peringatan meninggalnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)."Pada saat itu dia mendengar ada orang membaca Alquran memakai lagu Jawa di haulnya Gus Dur. Pak Menteri suruh saya mencari yang bisa (baca Alquran) lagu Jawa," kata Machasin.Machasin sebelumnya menegaskan, tidak ada larangan membaca Alquran dengan langgam Jawa. "Kalaupun ada hadits yang mengatakan orang baca Alquran harus dengan lagu Arab, maka hadits itu diragukan," tukasnya.Apalagi, perdebatan tentang boleh tidaknya membaca Alquran dengan menggunakan irama atau dilagukan sudah ada sejak dulu."Dari dulu sudah ada permasalahan baca Alquran dengan lagu. Ada yang mengatakan boleh dan tidak. Boleh kalau mazhab Imam Syafi'i, Abu Hanifah boleh. Kalau Ahmad Bin Hanbal tidak boleh," ujarnya.

Rekomendasi