Ajaibnya musala Damar & sosok R Pamulyo saat kebakaran Pasar Johar

Para perangkat desa setempat zaman Belanda dan Jepang lalu mendirikan musala itu untuk mengabadikan Mbah Damar.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Ajaibnya musala Damar & sosok R Pamulyo saat kebakaran Pasar Johar
Musala Kyai Damar selamat dari kobaran api. ©2015 Merdeka.com

Pasar Johar di Semarang terbakar hebat pada Sabtu (9/5) malam, sekitar pukul 20.00 WIB menghanguskan ribuan kios pedagang yang ada di pasar itu. Angin yang bertiup kencang menyebabkan kebakaran terus merembet ke Pasar Yaik yang masih satu kawasan dengan Pasar Johar, dan api baru berhasil dikuasai pada Minggu (10/5) pagi.Dinas Kebakaran Kota Semarang menyatakan akan menyiagakan personelnya untuk memantau Pasar Johar selama lima hari ke depan guna mencegah munculnya titik api.

"Sesuai instruksi Pak Wali (Wali Kota Semarang) kami 'stand by' lima hari ke depan," kata Kepala Bidang Operasional dan Pengendalian Dinas Kebakaran Kota Semarang Sumarsono, kemarin.Polisi menduga penyebab kebakaran Pasar Johar karena hubungan pendek arus listrik dari bagian lantai dua pasar.

"Dugaan sementara korsleting dari bagian tengah di lantai dua," kata Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Burhanudin. Meski demikian, dia belum bisa memastikan penyebab kebakaran di pasar yang pernah dinobatkan sebagai yang terbesar di Asia Tenggara ini.Namun kebakaran tersebut juga menyisakan cerita ganjil. Sebuah musala di Kawasan Pasar Damaran, Kompleks Pasar Johar meski dikepung oleh si jago merah yang mengamuk tak sedikit pun terbakar. Musala Kiai Damar yang tepatnya berada di depan Kampung Sumeneban, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah ini selamat dari kepungan di jago merah. Padahal bangunan rumah dan toko yang ada di depan seberang jalan dan samping kanan dan kiri hangus terbakarnya."Alhamdulillah mukjizat. Waktu itu habis maghrib setelah salat di sini (musala), saya ke kios saya warung makan di seberang jalan. Sekitar pukul 19.30 WIB saya sampai di rumah. Tiba-tiba dikabari kalau ada kebakaran di pasar," ungkap Aliyah (44 tahun) Ketua Majelis Taklim Selapanan Ahad pagi musala Kiai Damar saat ditemui merdeka.com Minggu (10/5) di musala Kiai Damar bercat warna hijau itu.

Aliyah mengaku saat sampai di musala Kiai Damar, api belum membesar. Bahkan barang dagangan berupa bawang putih dan merah di kios suaminya sempat dia selamatkan dengan cara membawa masuk ke musala."Sampai sini masih selamatkan pasar suami saya di pasar brambang bawang. Saya masukan ke musala. Ternyata api sudah tiga rumah dari utara. Yang penting jauh dari api," jelasnya.Meski barang dagangan suaminya selamat, namun dua kios warung makan miliknya sudah hangus dilalap si jago merah."Api sudah bakar dua warung nasi saya saya pasrah sama Allah. Saya lihat sampai sini masih seperti ini. Dibantu keras sama warga alhamdulillah ambil air musala kemudian berupaya menyirami api di sekitar bangunan musala, ternyata api datang dari belakang. Warga bantu dari depan dan samping belakang," ungkapnya.

Selama melawan api yang mengamuk, dirinya beserta beberapa para jamaah musala sambil mengumandangkan azan, takbir, takmid dan takdim."Sambil menyirami bangunan yang mengitari musala, kami (para jamaah) melakukan azan dan zikir, wirid tanpa dibantu oleh pemadam. Ternyata sekarang ini musala kami selamat dan tidak sedikit pun tersentuh oleh jilatan api. Padahal ribuan kios dan sebanyak empat rumah tersebut hangus oleh api," ungkap Aliyah menutup ceritanya.Dari cerita warga sekitar, di belakang musala ini ternyata terdapat makam kuno. Makam itu milik Kiai Damar yang kemudian diabadikan jadi nama musala di kompleks pasar.

Di belakang musala terdapat tiga buah makam yang salah satunya merupakan makam Kiai Damar. Jaraknya sekitar 5 sampai 7 meter di belakang musala."Kalau makam ini, yang dipucuk batu nisannya lancip (tajam) ini makam Kiai Damar. Sedangkan dua batu nisan yang tidak lancip atau tumpul di tengah makam Nyai Damar (sang istri) dan keponakan Kiai Damar," ungkap Mbah Hardi Susanto yang merupakan juru kunci makam dan marbot musala Kiai Damar di Kampung Sumeneban, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah Minggu (10/5) siang tadi.

Selain makam Kiai Damar, sang istri dan keponakan, awalnya juga ada makam warga lainnya. Saat penjajahan Jepang dan Belanda, jika warga Kota Semarang akan dimakamkan di pemakaman umum Bergota, Kota Semarang di Jalan Kiai Saleh selalu dihadang oleh penjajah."Semua keranda yang melintasi Lawang Sewu yang menjadi markas dan tempat penyiksaan warga Indonesia digeledah. Karena sang penjajah Belanda maupun Jepang saat itu khawatir di dalam keranda ada senjata. Sehingga warga jika meninggal dikuburkan di sekitar makam Kiai Damar," ucapnya.Namun saat ini, atas izin ahli waris makam warga langsung ditutup dengan lantai tanpa diberi batu nisan satu pun kecuali makam Kiai Damar, Nyai Damar dan sang keponakan.Uniknya, selain musala dan makam Kiai Damar yang tidak terbakar saat tragedi kebakaran Pasar Johar dan Pasar Yaik kemarin, sejumlah rumah di perkampungan di Kampung Sumeneban, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah juga ikut tidak terbakar."Kiai Damar nampaknya ikut melindungi warga di sini," selorohnya.

Kiai Damar sendiri konon menurut Mbah Hardi Susanto, adalah utusan Wali Songo dari kerajaan Demak. Kiai Damar bernama asli Raden Dipo Pamulyo ini adalah keturunan atau masih keturunan raja Demak saat itu.Sesudah kepemimpinan Wali Songo berganti, R Dipo Pamulyo inilah yang mendapat titah atau perintah dari keturunan Wali Songo untuk menghidupkan 'sentir' atau 'damar' (dalam bahasa indonesia berarti lampu) untuk menerangi beberapa musala, masjid dan surau.

"Tak tanggung-tanggung menghidupkan damar atau sentirnya banyak musala, masjid dan surau sepanjang mulai dari Demak sampai di Ungaran, Kabupaten Semarang," ungkapnya.Menyulut damar-nya tidak dalam waktu berhari-hari. Namun, dalam hitungan detik semua damar atau lampu penerangan berupa sentir di semua masjid, musala dan surau sepanjang jalan atau kawasan Demak hingga Ungaran bisa menyala bersamaan.

"Kalau begitu kan Kiai Damar itu mempunyai ilmu kanuragan yang ampuh. Bayangkan, dalam waktu sekian detik semua masjid, musala dan surau menyala bersamaan," ungkapnya sambil terheran-heran.Para perangkat desa setempat zaman Belanda dan Jepang lalu mendirikan musala itu untuk mengabadikan Mbah Damar yang makamnya ada di tempat itu. Makam sang istri dan ponakannya juga disandingkan di dekat musala tersebut.Sampai kini, fenomena mengapa perkampungan Damaran, musala dan makam Kiai Damar beserta istri dan keponakannya tidak ikut terbakar menjadi buah bibir di sekitar Kampung Damaran yang berada di sekitar Kawasan Pasar Johar dan Pasar Yaik yang terbakar.

Rekomendasi