Majalah Asiaweek tahun 2001 pernah menobatkan Li Ka Ching atau Li Ka Shing sebagai orang paling berpengaruh di Asia. Tak hanya itu kesuksesannya sebagai pengusaha asal China ini mengantarkannya mendapat Malcolm S. Forbes Lifetime Achievement Award pada 2006 silam.Kesuksesan Li bukan datang begitu saja. Banyak jalan terjal yang telah dia lampaui hingga akhirnya berada di puncak kesuksesan.Tahun 1940, keluarga Li mengungsi dari China ke Hongkong. Penderitaan demi penderitaan dia alami sebagai pengungsi.Saat umur Li 15 tahun, dia dikeluarkan dari sekolah karena terlalu miskin. Li juga terpaksa keluar karena sang ayah yang jadi tulang punggung keluarga meninggal karena penyakit TBC.Li kecil mencoba bekerja. Mulai menjadi sales sampai bekerja di pabrik plastik. Di sana dia membuat bunga dari plastik yang nantinya dia berhasil ekspor ke luar negeri.Rupanya tempaan hidup membuat Li menjadi pribadi yang berintegritas dan gampang beradaptasi. Tahun 1950 Li sudah mulai membangun pabrik plastik sendiri yang dia beri nama Cheung Kong Industries.Pabrik ini dia bangun dari uang pinjaman keluarga dan temannya. Bahkan dia sendiri yang menjadi salesnya.Li kemudian belajar cara agar produk plastiknya mendunia. Bahkan dia perlu waktu seminggu untuk saat ingin memasarkan ke pembeli asing.
Topik pilihan: Tips Sukses | Inspirasi WirausahaSampai akhirnya dia bertemu pembeli yang merasa takjub dengan produk bunga plastik miliknya yang dianggap menyerupai bunga asli. Akhirnya pembeli tersebut memesan produk Li dalam jumlah banyak.Seperti dilansir businessinsider.com, usaha Li lambat laun merambah ke banyak sektor, seperti real estate, banking, telekomunikasi, hotel dan sebagainya. Hampir semua usahanya juga mampu mengekspansi Eropa dan Amerika.Meski sudah kaya raya Li tetap hidup sederhana, untuk ke kantor Li hanya menggunakan sepatu hitam, kemeja dan jam Seiko yang harganya murah.Harta kekayaannya pun banyak dia sumbangkan ke berbagai lembaga amal dan pendidikan. Sebut saja di tahun 2011, dia mendirikan politeknik yang dia beri nama dirinya. Kemudian dia juga membangun rumah kanker di Inggris.Selain itu, banyak universitas dam sekolah di Hongkong dan Singapura menjadi tempat dia berdonasi yang jumlahnya mencapai puluhan juta dolar.