Film Haji Oemar Said Tjokroaminoto telah beredar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis (9/4). Film tersebut menceritakan perjalanan hidup pria bernama lengkap Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.Semasa kanak-kanak, Tjokroaminoto sudah menunjukkan sikap kritis. Sikap kritis ini ditunjukkan Tjokroaminoto saat duduk di bangku sekolah Belanda, pada zaman kolonial Hindia Belanda. Tjokroaminoto sering dihukum oleh gurunya karena menjahili para siswa Belanda.Meski demikian, Tjokroaminoto selalu mengingat pesan gurunya. Kata 'hijrah' yang pertama kali disebut sang guru selalu ada dalam pikirannya. Saat itu, gurunya berpesan kepada Tjokroaminoto untuk selalu mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW."Hijrah dari tempat buruk ke tempat lebih baik. Jadi lah seperti sumbu api ini membuat umat menjadi terang. Yang kedua, iqra atau bacalah," pesan gurunya kepada Tjokro, dalam salah satu adegan film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto'.Hijrah pertama dilakukan Tjokroaminoto saat menuju Kota Semarang pada tahun 1905 silam. Pria kelahiran Ponorogo ini hijrah menuju Semarang lantaran dipecat dari pekerjaannya di perkebunan karet milik pengusaha Hindia Belanda, Mr Haendlift.Saat itu, Tjokroaminoto dinilai kurang ajar karena menuangkan teh panas ke dalam cangkir hingga penuh. Hal itu dikarenakan Tjokroaminoto kesal kepada Haendlift yang menganggap rendah orang-orang pribumi.Di Semarang, Tjokroaminoto melihat orang-orang pribumi menjadi budak para pejabat Hindia Belanda. Tak puas dengan kehidupannya di Semarang, Tjokroaminoto pun kembali berhijrah. Hijrah berikutnya terjadi pada tahun 1906 ke Surabaya.Hijrah menuju Surabaya dilakukan Tjokroaminoto atas saran dari salah satu teman kerjanya di Semarang. Surabaya disebut-sebut sebagai kota yang pantas untuk Tjokroaminoto. "Perjuangan tanpa kekerasan," kata temannya kepada Tjokroaminoto.Setibanya di Surabaya, Tjokroaminoto dijemput oleh Hasan Ali dan Sosrokardono di Stasiun Surabaya. Di Surabaya, Tjokroaminoto memulai perjuangan melawan Hindia Belanda.Hasan Ali menilai Tjokroaminoto mempunyai ide dan pemikiran yang bisa mendukung perjuangan hak-hak para pribumi. Tjokroaminoto pun diminta untuk masuk dalam sebuah organisasi ternama di Surabaya. Namun Tjokroaminoto menolak."Organisasi Budi Utomo hanya mengayomi kelompok priyayi dan kita butuh organisasi lain untuk bisa mengayomi semuanya," kata Tjokroaminoto.Tjokroaminoto yang menjadi pimpinan di salah satu media penerbitan, koran Bintang Soerabaya, membuat pemerintah Hindia Belanda ketakutan. Tjokroaminoto mengkritik pemerintah Hindia Belanda melalui tulisannya di surat kabar Bintang Soerabaya dan beberapa surat kabar lain.Utusan Serikat Dagang Islam menemui Tjokroaminoto untuk bergabung melawan Hindia Belanda. Sebab, Serikat Dagang Islam telah dibekukan oleh Hindia Belanda karena bersikap radikal.Setelah itu, Serikat Dagang Islam menjadi organisasi Serikat Islam. Beberapa anggota Serikat Islam yang menimba ilmu dari para pejuang Indonesia yakni Semaoen, Muso, Soekarno, Kartosuwiryo, Darsono dan Alimin.Bahkan Agus Salim kala itu sering ditanya oleh Tjokroaminoto tentang Hijrah. "Sudah sampai mana Gus, hijrah kita," tanya Tjokro."Mungkin sudah sampai Arafah di mana kita harus selalu berdoa kepada Allah," jawab Agus.Kata 'hijrah' pun diucapkan Tjokroaminoto pada saat menemani istrinya, Suharsikin menjelang wafat. "Hijrah ku kali ini akan menemani mu," katanya.
Tjokroaminoto, tokoh Islam yang selalu ingat 'hijrah
Kata 'hijrah' pun diucapkan Tjokroaminoto pada saat menemani istrinya, Suharsikin menjelang wafat.
Advertisement
Rekomendasi