Misteri Sumur Sri Tanjung, jadi obat dan pertanda buruk

"Sumur Sri Tanjung berada di belakang Rumah Osing ini. Katanya angker, tapi sekarang sudah ditutup," kata Anas.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Misteri Sumur Sri Tanjung, jadi obat dan pertanda buruk
Sumur Sri Tanjung. ©2015 Merdeka.com

Legenda Sumur Sri Tanjung, sumur tua yang ditengarai sebagai cikal bakal nama Banyuwangi ini, ternyata menyimpan misteri. Selain dikenal angker, airnya kerap diambil warga setempat untuk obat mujarab.Ini sempat diungkap Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas saat menggelar ramah tamah di Rumah Osing sekitar Pendopo Kabupaten Banyuwangi bersama sejumlah awak media, anggota DPD RI, Emilia Contessa, Sekjen DPP Muhammadiyah Abdul Mu'ti dan beberapa SKPD setempat, Sabtu malam (28/3)."Di sini ini ada sumur tua, namanya Sri Tanjung. Sumurnya berada di belakang Rumah Osing ini. Katanya angker, tapi sekarang sudah ditutup. Dulu sebelum ditutup airnya sering diambil orang-orang untuk obat," kata Anas membuka ramah tamahnya di hadapan para tamu.Sayangnya, bupati yang juga kader Nahdlatul Ulama (NU) itu tak bisa menceritakan sejarah Sumur Sri Tanjung secara rinci, termasuk cerita-cerita mistis yang berkembang terkait keberadaan sumur tua tersebut."Saya tahu hanya mendengar cerita saja, benar tidaknya saya belum tahu. Tapi Tukul (Arwana) yang di acara tivi apa itu nama programnya, oh iya Tukul Jalan-Jalan, itu pernah bikin acara di sini," ucapnya.Sumur Tua Sri Tanjung yang terletak di belakang sisi utara Pendopo Kabupaten Banyuwangi, di Jalan Sri Tanjung Nomor 1 ini ditemukan pertama kali pada masa kepemimpinan Raden Tumenggung Notodiningrat, sekitar tahun 1920.Saat itu, seorang warga hendak membuat sumur di belakang rumahnya, tapi tiba-tiba saat menggali sumur, bau wangi keluar dari galian sumur tersebut, dan dipercaya adalah bau harum Sri Tanjung yang ditenggelamkan Sidopekso ke sungai.Sri tanjung dan Sidopekso merupakan legenda turun-temurun yang merupakan kisah asmara dan kesetiaan yang merupakan cikal bakal nama Kabupaten Banyuwangi.Konon menurut warga setempat, air sumur kadang bisa berubah warna dan aromanya. Kadang wangi, kadang pula anyir atau amis. Jika aroma air sumur berubah wangi, diyakini pertanda baik yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini.Namun jika aroma air sumur berubah amis, maka itu diyakini suatu pertanda buruk yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini. Keyakinan masyarakat ini, dibuktikan pada Tahun 1965-an, yang saat itu terjadi peristiwa Gerakan 30 September yang dikenal dengan G 30 S/PKI.

Rekomendasi