Harimau mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah ini dilekatkan oleh rekan-rekan almarhum Haryanto Taslam, mantan aktivis era reformasi yang getol melawan rezim Orde Baru. Memang Taslam sudah kembali ke Sang Khalik. Akan tetapi, kenangan tentang sosoknya tetap hidup dalam hati rekan-rekannya sesama aktivis.Bagi mereka, Taslam adalah sosok yang fleksibel tapi tegas dalam prinsip."Sahabat kita almarhum Taslam sudah pergi, tapi ia tetap hidup dalam hati kita," ujar Idrus Marham dalam kesempatan memberikan sambutan di rumah duka Haryanto Taslam, Jl. Rindu Bulu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (15/3).Menurut Idrus, sosok almarhum Taslam merupakan tokoh yang lahir pada masa perjuangan. Saat itu menurut Idrus adalah masa-masa yang sangat sulit bagi para aktivis. Banyak aktivis berkali-kali dicari karena menentang kebijakan-kebijakan pemerintah."Sahabat kita punya tiga hal yang tak dimiliki tokoh-tokoh sekarang. Tokoh-tokoh sekarang 'sok' ngaku sebagai pejuang padahal belum berbuat apa-apa," lanjut Idrus."Almarhum adalah aktivis yang lahir pada masa perjuangan. Namun ada aktivis sekarang yang anggap hebat," tutur Idrus.Almarhum Taslam menurut Idrus juga merupakan seorang pejuang yang konsisten. Ia berjuang tapi tak pernah mengaku hebat. "Tiga hal inilah yang diwariskan saudara kita Taslam yang patut kita contohi sekarang ini," pungkas Idrus.
Haryanto Taslam tak pernah mengaku hebat
"Sahabat kita almarhum Taslam sudah pergi, tapi ia tetap hidup dalam hati kita," ujar Idrus Marham.
Rekomendasi