Politikus senior Haryanto Taslam tutup usia, Sabtu (14/3). Haryanto meninggal di RS Medistra sekitar Pukul 20.55 WIB setelah sempat koma dan dirawat intensif.Haryanto bukanlah nama baru di jagat politik Indonesia. Apalagi mereka yang berjuang bersama saat hendak menggulingkan rezim Orde Baru di bawah komando Soeharto. Haryanto ikut aktif bersama aktivis lainnya dalam membangun reformasi di negeri ini.Bahkan Haryanto sempat menjadi korban penculikan bersama puluhan aktivis lainnya. Bagaimana kisahnya?Haryanto Taslam merupakan loyalis PDI pro Megawati (PDIP) di tahun 1998. Ketika itu, PDI pro Megawati (sekarang PDIP) dianggap musuh oleh pemerintah Orde Baru.Hari-hari Haryanto selalu waspada dan gelisah. Waktu bersama anak dan istri hanya bisa sesaat lalu menghilang seperti main petak umpet dengan pemerintah. Kekhawatiran Haryanto akhirnya terjadi.
Advertisement
Suatu malam selepas waktu Isya, dia yang sedang mengendarai Mitsubishi Lancer sendirian dari rumahnya di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Haryanto sedang dalam perjalanan menuju rumah Megawati di Kebagusan, Jakarta Selatan.Di depan Taman Mini, dirinya dibuntuti dua mobil dan menyadari dalam bahaya. Benar saja, mobil pertama menyalip di depan, lalu mobil kedua menabrak dari belakang."Penculiknya profesional. Saya diringkus tiga laki-laki bertubuh tinggi kekar. Tangannya diborgol, dan mata saya ditutup dengan kain hitam," ujar Haryanto saat wawancara dengan majalah Gatra tahun 2000 silam.Begitu turun dari mobil penculik, Haryanto dijebloskan ke sel berjeruji besi, kokoh. Tiap sel ada kamar mandinya, AC dan WC. Saat diculik, Haryanto tak pernah disiksa. Namun, tekanan psikologis terus diberikan penculik kepada dirinya."Mereka mencecar pertanyaan sekitar PDI pro-Megawati yang katanya akan menggerakkan massa untuk melakukan people power model Filipina. Juga ditanya soal pertemuannya di rumah tokoh Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Muchtar Pakpahan," katanya.
Advertisement
Haryanto akhirnya dibebaskan 17 April 1998 di sebuah jalan dekat Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Menjelang diturunkan dari mobil, seorang penculik memberinya segepok uang senilai Rp 20 juta dan tiket pesawat ke Surabaya. Uang itu sebagai pengganti mobil Lancernya, uang saku dan menginap di hotel, serta uang pembeli pager.Orde Baru pun tumbang. Haryanto bergabung dengan PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri pada 2009 lalu. Akan tetapi, kabar mengejutkan ketika dirinya memutuskan untuk pindah ke Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto. Sebab, Prabowo kala itu santer disebut sebagai salah satu otak penculikan aktivis yang melawan pemerintah Orde Baru.