Pupuk oplosan marak di Jateng, Ganjar dipanggil Jokowi ke Istana

Ganjar mengaku resah dengan maraknya pengoplosan dan penyelundupan pupuk di luar daerah.

Parwito
Oleh Parwito - Reporter
Pupuk oplosan marak di Jateng, Ganjar dipanggil Jokowi ke Istana
Ganjar sidak pupuk oplosan di Demak. ©2015 Merdeka.com

Maraknya tindak pidana pengoplosan dan penyelundupan pupuk bersubsidi di Jawa Tengah ternyata mengundang perhatian orang nomor satu di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi), langsung menelepon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo terkait kasus pengoplosan dan penyelundupan pupuk Urea bersubsidi dari wilayah Jateng ke propinsi lain itu."Kebetulan besok Jumat (13/2) ini saya akan dipanggil presiden. Saya akan membicarakan langsung. Kalau ini serius. Jadi di Jawa Tengah saja ini bisa menemukan dua kasus (pengoplosan dan penyelundupan pupuk bersubsidi urea). Yang menarik ini kasusnya, dari Ureanya Pusri ini dipindah ke Kujang," jelas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo usai mendatangi lokasi pengoplosan dan penyelundupan pupuk di UD Makmur Abadi di Jalan Raya Dampyak Nomor 68, Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah Kamis(12/2).Ganjar menyatakan akan mengajak Presiden Jokowi untuk melakukan koordinasi terkait upaya penumpasan tindak pidana pengoplosan dan penyelundupan pupuk Urea bersubsidi di pindah ke pupuk Kujang non subsidi dan dijual bebas di pasaran di daerah Jawa Barat, DKI Jakarta, Bandung dan sekitarnya."Saya nanti akan ajak koordinasi (presiden) bagaimana caranya agar mendapatkan kasus ini lagi. Sebenarnya kalau pemerintah mengawasi sendiri dengan cara reguler nggak bisa. Wong itu barangnya bersubsidi tapi jualnya bebas kok. Rumusnya sudah keliru, makanya greatnya sudah tertutup," jelasnya.Ganjar mengaku resah dengan maraknya pengoplosan dan penyelundupan pupuk di luar daerah, target kemandirian pangan selama empat tahun tercapai dan penambahan sejuta lahan petani yang dicanangkan oleh presiden akan gagal. Termasuk beban target Jateng untuk kedaulatan pangan yang naik dari dua juta menjadi tiga juta."Ini kalau ndak, target kedaulatan pangan kita dengan tambahan sejuta lahan secara nasional dan Jawa Tengah dari dua juta menjadi tiga juta itu pasti akan sangat terganggu," jelasnya.Ganjar juga ada kekhawatiran dan dugaan yang harus dibuktikan bahwa berkurangnya stok pupuk dan menjadikan petani mengeluh langka pupuk adalah salah satunya akibat maraknya kasus pengoplosan dan penyelundupan pupuk urea bersubsidi ini."Saya khawatir dan kita harus buktikan jangan-jangan pola ini yang akhirnya yang membikin stok kita berkurang dan akhirnya rakyat petani kita tidak bisa mendapatkan jatahnya," pungkasnya.Sebelumnya, petugas TNI dari Kodim 0712 Tegal Kamis (12/2) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari menggerebek pengoplosan gudang pupuk di Jalan Raya Dampyak Km 3, Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.Gudang pengoplosan pupuk itu semula merupakan gudang tempat penggilingan padi UD Makmur Abadi milik Mohamad Imam Noval (28) warga Desa Besole RT 7 RW 2, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.Saat penggerebekan petugas yang dipimpin langsung Dandim Tegal Letkol berhasil menangkap tangan dan mengamankan tiga orang terdiri dari sopir truk, kenek truk dan penjaga gudang pengoplos pupuk Urea bersubsidi dirubah jadi Pupuk Kujang non subsidi.Selain mengamankan pelaku, petugas juga mengamankan ratusan karung pupuk hasil olahan dikemas dalam karung pupuk PT Pupuk Kujang, ratusan karung pupuk subsidi PT Pupuk Indonesia, puluhan jerigen Hidrogen Peroxida (H2O2). Kemudian ratusan karung kosong baru bertuliskan PT Pupuk Kujang, 2 buah mesin molen (pengaduk), 1 mesin jahit tangan, 1 unit truk Colt Diesel Nopol T 9343 E bermuatan 8 ton pupuk hasil olahan berlabel PT Pupuk Kujang. Rencanaya pupuk oplosan dari pupuk subsidi menjadi non subsidi ini akan dikirim ke Majalengka Jabar.

Rekomendasi