Untung-rugi Presiden Jokowi 'berkantor' di Bogor

Kondisi yang nyaman disinyalir menjadi alasan Presiden Jokowi untuk lebih banyak beraktivitas di Istana Bogor.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Untung-rugi Presiden Jokowi 'berkantor' di Bogor
Jokowi di Filipina. ©AFP PHOTO

Sejak dilantik 20 Oktober tahun lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali melakukan rapat di Istana Bogor. Rapat perdana di Istana Bogor dilakukan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla pada 24 November tahun lalu dengan mengundang para gubernur se-Indonesia. Sejak saat itu, Presiden Jokowi semakin sering memanfaatkan Istana Bogor untuk menggelar rapat. Wilayah Kota Bogor yang berada di ketinggian 190-330 m dari permukaan laut menjadikan istana di area Kebun Raya itu sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya sekitar 26 °C.Selain itu, belakangan ini suhu politik dan hukum di Jakarta memang meningkat. Kisruh KPK vs Polri meningkatkan gesekan politik dan hukum di Jakarta. Belum lagi banjir melanda Jakarta, bahkan kompleks Istana sempat tergenang air. Kondisi ini disinyalir menjadi alasan Presiden Jokowi untuk lebih banyak beraktivitas di Istana Bogor.Sekretaris Kabinet (Seskab) Andi Widjajanto mengatakan, Sekretariat Kepresidenan mulai mendekorasi Istana Bogor ala Jokowi. "Sudah disiapkan, hanya barang-barang personal, ya kayak mendekorasi rumah," kata Andi di Kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta, Rabu (11/2).Menurut Andi, prosesnya sama dengan ketika Jokowi pindah dan tinggal di Wisma Negara yang letaknya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. "Di istana-istana (Jakarta) sudah dimasukkan beberapa barang presiden untuk memberikan kesan yang akrab dengan presiden, di istana ini juga ada barang-barang personal presiden, bangku-bangku taman disiapkan sendiri oleh presiden di dalam Istana Merdeka sama, Istana Bogor juga sama," ungkap Andi.Di Istana Bodor, lanjut Andi, Presiden Jokowi tidak akan menetap seperti di Istana Jakarta. Presiden kemungkinan akan menginap beberapa kali di Istana Bogor apabila ada pertemuan atau rapat. Alasannya, beberapa kali Presiden Jokowi menggelar rapat di Istana Bogor, orang nomor 1 Indonesia tersebut merasa nyaman."Wacananya bukan pindah, tetapi kalau presiden memutuskan dalam acara di Bogor ingin bermalam, kami siapkan. Pertemuan-pertemuan relatif untuk mengundang pertemuan besar juga bupati wali kota yang 100-an orang jadi kami mempersiapkan kalau presiden ingin bermalam di sana. Untuk kami, presiden ingin bermalam satu hari atau bermalam 1 bulan penuh tidak ada bedanya. Tempat itu harus dipersiapkan untuk presiden," ungkapnya.

Kabar mengenai keinginan Presiden Jokowi untuk lebih banyak berkantor di Istana Bogor juga sudah sampai ke telinga Wali Kota Bogor, Bima Arya. Bahkan politisi PAN ini mengaku sudah bertemu dengan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno terkait wacana tersebut."Saya sudah ketemu Mensesneg, ada kecenderungan aktivitas presiden meningkat di Bogor, apakah bermukim atau tidak. Tapi apapun karena ini adalah istana, Pemkot Bogor siap koordinasi dengan Setneg untuk menjamin keamanan, kenyamanan terutama arus lalu lintas," kata Bima.Bima mengaku siap menjadi 'tuan rumah' apabila Presiden Jokowi menjadikan Kota Bogor sebagai salah satu tempat aktivitasnya. Bima menilai, wacana tersebut juga akan mendongkrak sisi perekonomian masyarakat Bogor."Saya dengar memang ada keinginan dari beliau (Jokowi) untuk lebih banyak beraktivitas di Istana Bogor. Tapi soal pindah kantor atau tidak, kami belum terima pemberitahuan atau keputusan. Kita tetap siap. Dampak ekonomi sangat ada, kalau presiden di situ kita lakukan penataan, jadi wisata," ujar Bima.

Wacana Presiden Jokowi untuk lebih banyak beraktivitas di Istana Bogor tampaknya menuai keberatan dari beberapa pihak. Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio menilai, meningkatnya aktivitas Presiden Jokowi di Istana Bogor akan menimbulkan dampak negatif. Agus menyoroti dari sisi transportasi dari Jakarta ke Bogor, pun sebaliknya. "Andaikan dia (Jokowi) di sana, perlu dipikirkan soal transportasinya, apakah setiap rapat kabinet akan di sana (Istana Bogor), kalau rapat kabinet kan semua VVIP punya voorijder sendiri-sendiri, pengawalan sendiri-sendiri, apa nggak malah bikin macet? SBY saja dulu di Cikeas sudah bikin macet (jalur Jakarta-Cikeas). Apa tidak aneh? Ibu kota di Jakarta rapat di Bogor," ungkap Agus.Agus mengungkapkan kondisi jalan Tol Jagorawi yang sudah padat di setiap jam-jam sibuk seperti berangkat dan pulang kerja. "Bukan Bogornya jadi macet, tapi transportasinya yang akan jadi parah. Sekarang saja Jagorawi sudah padat setiap pulang kerja, perlu dipikirkan transportasinya, belum lagi kereta, buka-tutupnya (pintu kereta)," papar Agus.Agus meminta Presiden Jokowi untuk tetap beraktivitas di Jakarta dan menjalankan pemerintahan dari Istana Kepresidenan, Jakarta. "Sudah lah kalau sudah di Istana Merdeka duduk manis saja di Istana Merdeka," tegas Agus.Senada dengan Agus, salah seorang warga Bogor, Herry mengaku keberatan apabila aktivitas Presiden Jokowi di Istana Bogor meningkat. "Nanti malah jadi bikin macet, kan setiap pejabat itu punya pengawal. Bikin macet," tutur Herry.

Rekomendasi