Anggota Kompolnas Adrianus Meliala mengaku kaget saat KPK menetapkan calon Kapolri usulannya, Komjen Polisi Budi Gunawan sebagai tersangka. Menurut Adrianus, usulan calon Kapolri kepada Presiden Jokowi dipikir berjalan mulus, namun kenyataannya justru sebaliknya."Kaget. Kami manusia juga, harapannya sudah bisa ikut pelantikan, happy-happy ternyata gini," ujarnya di Istana Kepresidenan. Jakarta, Kamis (29/1) malam.Adrianus dan teman-teman di Kompolnas merasa tidak sepenuhnya salah. Sebab, saat itu Presiden Jokowi meminta cepat pencalonan Kapolri padahal seharusnya baru disiapkan pada bulan Februari."Ya ini kalau mau nyalah-nyalahin ya kami nyalahin presiden tapi kan enggak mungkin nyalahin presiden. Kami bilang ke Pak menteri, kami baru siap Februari Pak, Pak Presidennya bilang tanggal 8, mana boleh kami nyalahin presiden orang kami pembantu kok," ujarnya.Lantas Adrianus dan teman-teman di Kompolnas mengaku galau secara psikologis atas desakan tersebut. Di satu sisi, saat BG menjadi tersangka, Presiden menyeret-nyeret alasan bahwa hal itu usulan dari Kompolnas."Kami dalam situasi yang galau secara psikologis, dulu dalam zaman SBY, generasi sebelum saya, Adnan Pandu ini, jangankan ketemu presiden, ketemu menteri saja enggak, ditoleh pun tidak. Tapi ketika saya ditersangkakan, Pak Joko bilang silakan lho, kayak ga merasa dia ketua. Zaman Jokowi ini kami merasa diorangkan betul. Kami juga ingin berbuat yang terbaik tapi haduh," ujarnya.
Kompolnas: Kalau mau salah-salahan ya kami salahin presiden
Kompolnas belum diminta menyodorkan nama baru untuk menggantikan Komjen Pol Budi Gunawan.
Rekomendasi