Penyelesaian konflik antara anggota TNI dan Polri selama ini dinilai belum menyentuh sampai ke akar-akarnya. Keributan bisa kembali pecah meskipun hanya disulut persoalan sepele. Teranyar adalah bentrok anggota TNI dan Brimob di Batam, Kepulauan Riau. Tentara menyerbu markas Brimob, lalu menembakinya. Satu anggota TNI tewas dengan luak tembak di kepala.Usai bentrok, esok harinya Kapolri Jenderal Sutarman dan Kasad Jenderal Gatot Nurmantyo datang ke Batam. Kapolda Kepulauan Riau dan Pangdam Bukit Barisan, turut hadir untuk mendamaikan dua belah pihak.Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan mengkritik cara-cara mendamaikan yang hanya bersifat seremonial. Dia juga menyayangkan agar terlihat harmonis dilakukan kegiatan bersama anggota TNI dan Polri."Cara penyelesaian berbagai kasus bentrokan TNI dan Polri selama ini hanya bersifat seremonial belaka. Eloknya, penyelesaian harus menyangkut substansi yang menjadi masalah," kata Luhut dalam rilis kepada merdeka.com, Rabu (26/11).Justru, kata Luhut, cara penyelesaian dengan menyelidiki penyebabnya (yang sebenarnya sudah jelas), menghukum prajurit yang terlibat perkelahian bukanlah yang utama. Dia justru miris melihat seolah-olah keakraban diwujudkan dengan olahraga dan dangdut bersama."Cara di atas cuma berusia pendek dan bukan jaminan selesainya permasalahan secara mendasar dan permanen seperti diinginkan oleh Presiden Jokowi," tuturnya."Indonesia adalah bangsa besar. TNI dan Polri harus hebat agar Indonesia semakin kuat, dan disegani negara-negara lain," tandas mantan komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) itu.
Olahraga & dangdut bersama tak selesaikan konflik TNI dan Polri
"Cara penyelesaian berbagai kasus bentrokan TNI dan Polri selama ini hanya bersifat seremonial belaka," kata Luhut.
Advertisement
Rekomendasi