LIPI kembangkan ekohidrologi buat atasi masalah air di Indonesia

Kata Hery, ekohidrologi merupakan solusi pemecahan persoalan krisis sumber daya air yang menghantui negeri ini.

Kresna
Oleh Kresna - Reporter
LIPI kembangkan ekohidrologi buat atasi masalah air di Indonesia
Ilustrasi danau. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Boris Ryaposov

Belakangan ini persoalan air semakin memprihatinkan karena berdampak pada penurunan ekosistem global. Hal ini ditandai dengan hilangnya keanekaragaman hayati secara signifikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan konvensional pengelolaan sumber daya air berdasarkan penerapan teknik rekayasa, intervensi sektoral dan pengeliminasian ancaman polusi pada sejumlah sumbernya tidak cukup lagi untuk membendung krisis air global.Oleh karena itu, perlu pendekatan baru untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pendekatan ini adalah ekohidrologi yang bertujuan mencari solusi tidak secara eksklusif memfokuskan pada persoalan teknis, melainkan penyelesaian permasalahan secara luas melalui kebijakan sumber daya air yang berkelanjutan.Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain, ekohidrologi merupakan ilmu integratif dengan paradigma baru yang berupaya mencari solusi permasalahan seputar air, manusia dan lingkungan sekitarnya. Dia mengungkapkan, konsep dasar ekohidrologi adalah pendekatan pengelolaan sumber daya air dan biodiversitas dalam satu kesatuan."Walaupun ketersediaan air di Indonesia melimpah, namun secara kualitas tidak semuanya memenuhi kriteria air bersih dan sehat yang layak konsumsi. Sekarang, sebagian besar dari penduduk masih belum mengkonsumsi air bersih," kata Iskandar saat membuka International Conference on Ecohydrology (ICE) 2014 di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Senin (10/11).Sementara itu Direktur Eksekutif Asia Pacific Center for Ecohydrology (APCE–UNESCO) Hery Harjono mengatakan sumber daya air seperti danau dan sungai di Indonesia sebagian besar telah rusak dan tercemar. Eksploitasi manusia, limbah rumah tangga dan keberadaan industri menjadi penyebabnya. Berkaca dari hal itu, dia melanjutkan, ekohidrologi merupakan solusi pemecahan persoalan krisis sumber daya air yang menghantui negeri ini. Ekohidrologi melihat ekosistem sekitarnya secara menyeluruh untuk penyediaan air. "Ilmu ini masih tergolong dalam ekoteknologi, yakni penggabungan antara pengetahuan lingkungan dan teknologi. Dengan kata lain, mengubah perlakuan terhadap air yang eksploitatif menjadi ramah lingkungan," ujarnya.Sebagai informasi, salah satu penerapan ekohidrologi yang sudah dilakukan ialah pemanfaatan tumbuhan atau vegetasi dalam mengatasi masalah lingkungan. Contohnya pengembalian ekosistem Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat yang berdampak pada kualitas air Sungai Citarum. Salah satu cara pembenahan waduk tersebut melalui teknik ekohidrologi. Air waduk yang tercemar dibersihkan lewat pemanfaatan tanaman seperti rumput atau enceng gondok yang ditanam di sepanjang aliran waduk. Hasilnya tingkat kebersihan air meningkat dan biaya pembersihan lebih murah.Hery menambahkan, solusi permasalahan air dengan pendekatan ekohidrologi harus terus ditingkatkan. Salah satunya melalui peran APCE yang berada di kawasan Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat. "APCE diharapkan menjadi garda terdepan dalam memperdalam, mempertajam dan mengembangkan konsep pengelolaan berbasis ekohidrologi yang bermanfaat bagi masyarakat dan kehidupan di sekitarnya," ujarnya.

Rekomendasi