Polemik logo Yogya jadi Togua

"Saya tidak bilang ini jelek, tapi kurang pas dan kurang mewakili Jogja," kata Sumbo.

Mohamad Taufik
Oleh Mohamad Taufik - Reporter
Polemik logo Yogya jadi Togua
Togua. ©istimewa

Beberapa hari ini sedang ramai masalah logo Yogyakarta di media sosial (medsos). Upaya pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mengganti logo menuai sejumlah kritikan dari para Netizen. Hal ini karena logo baru yang diperkenalkan beberapa waktu lalu dinilai tidak mencerminkan Yogyakarta.Logo dengan tulisan Jogja yang baru diperkenalkan menurut sejumlah Netizen tidak jelas karena jika dibaca sekilas justru terbaca Togua. Huruf J pada awal logo tersebut lebih mirip seperti huruf T sementara huruf J kedua mirip huruf U sehingga jika dibaca menjadi Togua. Sejumlah sindiran pun muncul di lini massa Twitter. Misalnya dari akun @savicali yang mentwit, "Kalo mau ke Togua msh bs naik pesawat dan kreta api ato harus naik pesawat ulang-alik? :)))".Sementara itu akun @hericz mengatakan "katanya Kla akan re-reuni kembali, menyanyikan lagu "Nikmati bersama, suasana TOGUA".Bahkan, mantan Wali Kota Yogyakarta Heri Zudianto pun turut berkomentar lewat akun Twitternya. "kesimpulan umum sebagian besar (hampir semuanya) menilai negatif atas logo new branding #jogja," cuitnya dalam akun @herry_zudianto."Semoga kesan/opini yg masuk ini dpt menjadi masukan tim new branding jogja (hermawan kertajaya)" lanjutnya.

Tak tanggung-tanggung perbincangan brand logo Jogja ini pun menjadi trending topik no 8 di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, salah satu designer logo di Yogya, Azka Maula yang sempat membuat design #BebaskanFlorence menilai dalam pembuatan logo harus memperhatikan karakter dan ciri khas dari produk yang akan di branding."Kalau Jogja identik dengan warna hijau misalnya, kemudian masyarakat yang dinamis, itu bisa tercermin lewat logo, tapi saya tidak bilang ini jelek, tapi kurang pas dan kurang mewakili Jogja," katanya.Perlawanan juga datang dari sejumlah designer akar rumput Yogyakarta. Mereka menilai logo Yogya yang baru jauh dari indentitas Yogyakarta sebagai daerah istimewa.Sampai-sampai muncul gerakan Jogja Darurat Logo yang diprakasai oleh pakar Design Komunikasi Visual, Sumbo Tinarbuko yang juga merupakan dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta.Menurut Sumbo, gerakan ini sebetulnya inisiatif dari designer muda di Yogyakarta yang prihatin melihat design logo Yogya yang baru."Bukan saya sebenarnya, justru teman-teman muda ini yang menggagas gerakan ini," kata Sumbo saat menggelar urun rembug Jogja Darurat Logo, di rumahnya di Jalan Sonopakis Lor, Yogyakarta.

Sumbo Tinarbuko juga menjelaskan design logo Jogja yang ditawarkan terlalu modern dan menghilangkan ciri khas Yogyakarta. Karena itu dia dan sejumlah designer akar rumput Yogya berencana membuat design karya masing-masing designer sebagai alternatif dan memberikan pandangan lain pada pemerintah."Rencananya dibuat fanspage kemudian teman-teman yang mau urun design silakan diupload saja, semakin ramai semakin banyak pandangan berbeda," katanya.Sumbo mengusulkan agar design logo yang terkumpul nantinya diberikan kepada Bappeda untuk menjadi pertimbangan."Baru usul sih, nanti diserahkan ke Bappeda, karena itu kerjaannya Bappeda, kita sebenarnya punya banyak anak muda kreatif jangan sampai ini dilupakan pemerintah," tuturnya.

Rekomendasi