Jelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) mengklaim telah mengantongi dukungan kuat dari para pemilik suara.
Dia optimistis dapat meraih dukungan lebih dari 60 persen dari 556 lembaga yang masuk Daftar Peserta Tetap (DPT) Muktamar Ke-35 NU.
Optimisme itu didasarkan pada konsolidasi yang dilakukan Gus Salam bersama timnya dalam beberapa bulan terakhir. Ia mengaku telah bertemu langsung dengan fungsionaris 30 PWNU dan lebih dari 470 PCNU di berbagai daerah.
“Kami telah bersilaturahim secara langsung, bertemu secara fisik dengan para fungsionaris di 30 PWNU, dan lebih dari 470 PCNU seluruh Indonesia,” ujar Gus Salam saat ditemui di Jombang, Jumat (22/8/2026).
Selain pertemuan langsung, komunikasi dengan fungsionaris PWNU, PCNU, dan PCINU juga terus dilakukan, baik melalui forum maupun secara personal.
“Intinya, semua yang telah kami temui dan komunikasikan saat ini sudah masuk dalam Daftar Peserta Tetap atau DPT Muktamar ke-35 NU,” jelasnya.
Berdasarkan DPT, terdapat 556 PWNU, PCNU, dan PCINU yang berhak memiliki suara dalam Muktamar Ke-35 NU. Jumlah tersebut menjadi dasar Gus Salam dalam memetakan dukungan.
“Dari hasil silaturahim dan komunikasi itu, kami optimistis bisa meraih dukungan di atas 60 persen dari pemilik suara,” tegasnya.
Advertisement
Tiga Alasan Gus Salam Optimistis
Gus Salam menyebut ada tiga alasan yang membuatnya optimistis memperoleh dukungan mayoritas.
Pertama, gagasan rekonsiliasi total dan menghidupkan kembali ruh perjuangan para pendiri NU. Menurut dia, gagasan tersebut mendapat respons positif dari sejumlah PWNU, PCNU, dan PCINU.
“Gagasan 'rekonsiliasi total dan menghidupkan kembali ruh perjuangan pendiri NU' mendapat apresiasi yang luar biasa dari PWNU, PCNU, dan PCINU. Ini yang membangkitkan semangat khidmah mereka lagi di tengah melemahnya kepercayaan terhadap PBNU,” katanya.
Menurut Gus Salam, warga NU di daerah menginginkan kepemimpinan yang mempersatukan. Ia menilai gagasan rekonsiliasi dapat menjadi jalan untuk kembali pada khittah dan nilai-nilai dasar NU.
Kedua, Gus Salam menyebut dirinya dipandang sebagai figur yang merepresentasikan pesantren sekaligus pemimpin muda yang visioner. Gagasannya mengenai pesantren dan NU dituangkan dalam buku Menjaga Langit Pesantren, Dari Tradisi Menuju Peradaban.
“Berita, artikel yang saya tulis dan kegiatan saya, baik ngaji, silaturahim, sowan maupun forum pertemuan yang diunggah di platform media sosial, menjadi perhatian mereka. Mereka mencermati visi saya tentang transformasi NU dan masa depan pesantren melalui media,” ujarnya.
“Yang kami inginkan adalah PBNU ke depan yang membumi dan berwibawa. Dekat dengan pesantren, dekat dengan warga, dan kuat secara kelembagaan,” tambahnya.
Ketiga, Gus Salam mengatakan ikhtiarnya maju dalam Muktamar Ke-35 NU berangkat dari amanat guru dan kiai serta keprihatinannya terhadap kondisi PBNU yang dilanda konflik.
“Ini amanat guru. Saya bertekad berjuang hingga tuntas di Muktamar ke-35 NU. Tidak lain untuk mewujudkan perintah Guru-Kiai saya, KH Nurul Huda Djazuli,” tegas Gus Salam.
Meski optimistis meraih dukungan mayoritas, Gus Salam berharap Muktamar Ke-35 NU berlangsung sejuk dan independen. Ia meminta seluruh pihak menghindari praktik politik uang, intimidasi, manipulasi, dan intervensi.
“Saya berharap muktamar berlangsung sejuk, teduh, mencerminkan kedaulatan NU, independen, dan tidak dikotori dengan perilaku yang tidak berakhlak,” katanya.
“Mari kita jaga marwah Muktamar. Ini rumah kita bersama. Biarlah warga NU yang diwakili para peserta muktamar nanti yang menentukan,” pungkasnya.
Muktamar Ke-35 NU akan digelar di Jombang pada 27-31 Agustus 2026 untuk memilih kepengurusan PBNU masa khidmat 2026-2031.
Sejumlah nama telah mengemuka sebagai calon Ketua Umum PBNU, termasuk Gus Salam yang dalam beberapa bulan terakhir aktif melakukan konsolidasi dengan fungsionaris NU di berbagai daerah dan luar negeri.