Elang Jawa Makin Langka, Populasinya Tersisa 1.500 Ekor

Burung Elang Jawa atau nisaetus bartelsi, spesies burung pemangsa endemik Pulau Jawa berstatus terancam punah atau endangered.

Moh Kadafi
Oleh Moh Kadafi - Reporter
Elang Jawa Makin Langka, Populasinya Tersisa 1.500 Ekor
Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)

Burung Elang Jawa atau nisaetus bartelsi, spesies burung pemangsa endemik Pulau Jawa berstatus terancam punah atau endangered.

Hal itu disampaikan oleh Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN) di sela acara Konsultasi Publik dan Side Event SRAK Elang Jawa 2026-2036, wilayah Jawa Timur dan Bali yang digelar di Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (21/8).

Zaini menerangkan, populasi Elang Jawa kini tersebar di kawasan Pulau Jawa dan juga di Bali, total populasinya sekitar 1.500 ekor burung Elang Jawa. Tetapi, secara ideal dalam kategori dunia internasional, masih terancam punah karena idealnya kategori tidak terancam punah atau aman itu populasi Elang Jawa harus sebanyak 2.500 individu.

"Di dunia internasional mengkategorikan ada beberapa kategori. Termasuk status endangered atau genting, kategori untuk Elang Jawa itu idealnya sekitar 2.500 individu. Kita masih miss, sekitar 1.000 individu, kami coba lihat lagi, analisis kami masih masih panjang dalam upaya itu," kata dia.

"Elang Jawa itu kategorinya terancam punah, endangered itu. Dalam 20 tahun tidak ada upaya konservasi, itu akan punah kalau dibiarin, karena dengan kondisi hutan di Jawa, perburuan, kalau tidak ada upaya-upaya konservasi," imbuh Zaini.

Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)
Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)

Zaini menyebutkan, perburuan Elang Jawa itu masih cukup banyak di habitatnya. Harga di pasaran Elang Jawa dijual secara online berkisar Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Apalagi, Elang Jawa dianggap simbol nasional karena bentuknya dianggap mirip dengan Burung Garuda dan siapa yang memilikinya dianggap memiliki prestise.

"Dengan dunia teknologi sekarang justru perdagangannya tidak langsung tapi online. itu cukup banyak, sembunyi-sembunyi mereka. Ironinya, karena Elang Jawa itu dijadikan satwa simbol nasional, kemiripan dengan garuda, banyak perspektif dari masyarakat itu ingin memilikinya, suatu prestise. (Harganya) dijual online sekitar Rp1 juta sampai Rp5 juta," ujar dia.

 

Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)
Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)

Kemudian terkait habitat Elang Jawa yang berada di Pulau Jawa maupun di Bali tentu harus banyak melibatkan para pihak terkait sehingga tetap terjaga.

"Artinya perlu keterlibatan banyak pihak, tidak hanya dari NGO saja atau peneliti saja. Tapi dari pihak pemerintah, misalnya di mana tata ruang itu berperan dan sebagainya. Kemudian dari masyarakat sendiri, pihak swasta. Kami, bukan anti pembangunan tapi kami perlu melanjutkan," ujar dia.

"Mungkin ada beberapa kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang perlu kita dorong implementasinya. Kebijakan seperti perlindungan, baik itu spesiesnya atau habitatnya atau tempatnya sudah ada," kata dia.

Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)
Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)

Dia mengatakan, dalam penelitian awalnya Elang Jawa habitatnya diperkirakan hanya tersebar di Pulau Jawa. Tetapi, kemungkinan Elang Jawa juga berada di Pulau Bali, karena di tahun 2014 Elang Jawa terpotret oleh kemera fotografer berada di Bali.

"Awalnya, para peneliti memperkirakan Elang Jawa hanya ada di Jawa saja. Tapi sebenarnya tahun 1994 sempat ada catatan di Bali, cuma kita melihat mungkin ini salah identifikasi dan sebagainya. Seiring teknologi dan sebagainya teman-teman fotografer itu menemukan atau mendokumentasikan elang Jawa di Bali," ujar dia.

 

Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)
Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)

Kemudian penemuan dokumentasi itu dikaji oleh para peneliti terkait jenis elang yang ada di Bali dan ternyata dugaannya Elang Jawa juga tersebar di Pulau Bali.

"Kita coba kaji lebih lanjut lagi, ternyata ada sebaran Elang Jawa di Bali. Saat ini ada sekitar 14 titik lokasi di Bali, dimulai dari Bali Barat sampai ke Gunung Sega dan Gunung Lempuyang dan lainnya di (Kabupaten Karangasem), itu ada catatannya, nanti kami kaji lebih lanjut," kata Zaini.

Zaini memetakan, untuk sebaran Elang Jawa di Pulau Jawa ada 74 titik kantong populasi atau habitatnya. Kemudian, untuk di Pulau Bali ada 14 titik populasi habitatnya. Kemudian, untuk populasi Elang Jawa di Pulau Jawa itu ada 511 pasang dan ditambah di Bali, total diperkirakan ada 1.400 ekor Elang Jawa.

"Jadi totalnya ada sekitar 88 kantong populasi. Saat ini di Jawa itu ada sekitar 511 pasang. Nanti ditambah yang di Bali, totalnya ada sekitar 1.400. Akan kami coba kalkulasi lagi dengan anakan yang sudah berhasil. Iya sekitar 1.500 totalnya untuk Jawa dan Bali," ujar dia.

 

Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)
Zaini Rakhman selaku peneliti burung Elang Jawa sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8). (merdeka.com/Foto Kadafi)

Zaini mengatakan, dengan adanya sebaran Elang Jawa di Bali pihaknya akan maporkan ini ke dunia internasional bahwa ada sebaran Elang Jawa di Bali.

"Kami akan coba sampaikan ke dunia internasional bahwa ada sebaran di Bali," kata dia.

Kemudian untuk sebaran Elang Jawa di Pulau Jawa itu paling banyak berada di bagian Jawa Barat karena di sana kawasan hutannya masih cukup. Kemudian, di Jawa bagian timur, seperti di kawasan Gunung Bromo, Gunung Semeru karena kawasan hutannya cukup luas.

"Itu cukup luas hutan utamanya ditambah hutan dari Perhutani," ujar dia.

Kemudian, terkait adanya sebaran Elang Jawa di Pulau Bali menurutnya bukan perpindahan Elang Jawa dari Pulau Jawa ke Bali. Tetapi, untuk sementara jenis identitasnya elang yang ada di Bali mirip sekali dengan Elang Jawa.

"Itu bukan berpindah ini. Tapi mungkin bisa jadi ada, kami kan belum ada kajian lebih lanjut. Ini perlu diteliti lebih lanjut yang di Bali. Ini perlu stakeholder yang kuat di Bali, untuk meneliti apakah ini Bali ini sebarannya jenisnya identitasnya sama dengan Elang Jawa atau berbeda," ujar dia.

"Hasil DNA kemarin itu ada sedikit perbedaan. Tapi sampelnya masih kurang untuk menyatakan bahwa di Bali itu berbeda dengan di Jawa. DNA-nya hanya satu persen perbedaannya. Nah, itu perlu sampel lebih banyak lagi untuk memastikan apakah perbedaan itu signifikan apa tidak," tandasnya.

 

Rekomendasi