Kuta yang begitu menonjolkan pariwisata, mulai terbentur kendala soal krisis air. Bahkan sejumlah warga di Kuta, mulai resah lantaran krisisnya Air Bawah Tanah (ABT)."Jika dulu, untuk membuat sumur bor di wilayah kami, cukup 12 meter saja sudah dapat air bagus. Sekarang harus sampai 25 meter baru bisa temu air, itupun masih keruh. Mau dapat yang maksimal harus kedalaman 35 meter," Tutur Nyoman Sarjana, Tokoh seniman masyarakat adat Legian, Rabu (24/9)di Kuta.Ia juga menyebutkan bahwa kondisi ini bisa akibat mulai surutnya krisis air bawah tanah. "Harus dicek kembali oleh pemerintah, apakah hotel-hotel mengambil ABT. Kalau itu didiamkan, harus bayar pajak itu," sentilnya, menduga krisis air akibat maraknya sejumlah usaha di Kuta yang mengambil ABT diam-diam.Camat Kuta, I Gede Rai Wijaya, berharap hal ini disikapi dengan kepala dingin. Katanya saat ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Melainkan waktunya untuk secara bersama-sama mencari sebuah solusi pasti. Misalnya dengan jalan memperbanyak sumur resapan."Sumur resapan adalah jawabannya. Kalau memang sumur bor sekarang kering, berarti secara logika terjadi ketidakseimbangan antara penyedotan dan peresapan air dalam tanah," jelasnya.Camat Kuta yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi Reklamasi Konservasi Kantor Pertambangan dan Energi Kabupaten Badung ini, menyebutkan ada solusi lain yaitu bisa juga diganti dengan pembuatan lubang-lubang biopori. Karena dengan demikian, maka air hujan dapat dengan mudah terserap ke dalam tanah. "Ini harus segera diterapkan bahkan diharuskan. Semakin banyak adanya, maka semakin bagus," saran Wijaya.Katanya bangunan sekarang lebih banyak yang melapisi seluruh halaman dengan beton maupun batu sikat, menurutnya adalah langkah yang kurang pas untuk kelestarian lingkungan. Hal ini secara tidak langsung ini dirasa dapat meminimalisir kemungkinan terserapnya air hujan ke dalam tanah."Air hujan jangan dibuang begitu saja ke laut. Berikan kesempatan untuk terserap ke dalam tanah. Saya yakin, ini dapat menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai ABT," jelasnya.
Kampung Turis di Kuta Bali juga mulai alami krisis air tanah
Bahkan sejumlah warga di Kuta, mulai resah lantaran krisisnya Air Bawah Tanah (ABT).
Rekomendasi