Gaji Rp 6 Juta/bulan, bupati di Papua ini rutin golf di Jakarta

Yesaya Sombuk beralasan rutin bermain golf buat menjaga kebugaran diri dan menganggap olahraga itu tak mahal.

Aryo Putranto Saptohutomo
Gaji Rp 6 Juta/bulan, bupati di Papua ini rutin golf di Jakarta
Sidang Bupati Biak Numfor Yesaya Sombuk. ©2014 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Dalam persidangan kasus suap rencana proyek pembangunan tanggul laut oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Bupati non-aktif Biak Numfor, Yesaya Sombuk, mengaku rutin bermain golf di Jakarta dan Papua. Meski gajinya mepet, dia beralasan rutin bermain golf buat menjaga kebugaran diri.Yesaya mengakui hal itu saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (22/9). Dia mengaku berkeras main golf, padahal cuma memiliki penghasilan Rp 6,7 juta sebagai penyelenggara negara saban bulan. Kesaksiannya juga menjadi membingungkan lantaran dia mengaku dulu bekerja sebagai guru di Papua."Saya karena atlet. Dulu atlet golf dari Papua sehingga saya harus menjaga kesehatan. (Biaya) saya sendiri pak. Saya kalau di Jakarta (main) di Rawamangun, kalau di Jayapura ada juga," kata Yesaya.Yesaya mengaku sanggup membiayai kegiatan golfnya, meski gaji pas-pasan. Padahal, olahraga golf selama ini terkenal mahal dan hanya akrab dengan kalangan berduit."Tidak terlalu. Di situ kan hanya bayar sewa bola. Stik saya tidak terlalu mahal, hanya yang biasa. Biasa dikasih dari pejabat di Papua setelah pulang. Mereka melihat anak-anak Papua yang biasa main golf, saya dikasih," ujar Yesaya.Namun, Ketua Majelis Hakim Artha Theresia nampaknya geram mendengar pengakuan Yesaya hobi bermain golf. Sebab menurut dia, ongkos kegiatan dilakoni Yesaya terlampau mahal dan tidak sepadan dengan penghasilannya."Berhentilah main golf. Gaji cuma Rp 6 juta kok. Kegiatan yang saudara lakukan kontradiktif. Olahraga bisa macam-macam kok, enggak harus golf," kata Hakim Ketua Artha."Iya," jawab Yesaya lirih."Main golf di Rawamangun memang murah. Kira-kira Rp 100 ribu untuk 100 bola, atau bagaimana saya juga kurang paham karena saya tidak main golf. Tapi ke Jakarta sini bagaimana? Kan butuh biaya," tambah Hakim Ketua Artha.

Rekomendasi