Ide penggunaan sampah rumah tangga sebagai alat untuk mendapatkan akses terhadap fasilitas kesehatan sepertinya terlalu mengada-ada. Namun, seorang dokter muda lulusan Universitas Brawijaya, Malang, membuktikan bahwa ide tersebut bukanlah ide yang mustahil. Berkat ide gemilang dan ketekunannya dalam mengimplementasikan ide tersebut, Gamal Albinsaid dihadiahi sebuah penghargaan internasional, Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur Prize pada akhir Januari 2014 lalu di istana Buckingham.
Program penghargaan yang baru disahkan satu tahun silam ini memang dibuat untuk mencari ide-ide revolusioner dari para pemuda dalam bidang lingkungan, sosial dan kesehatan yang dapat menginspirasi semua pemuda di seluruh penjuru dunia. Unilever dan Cambridge Programme for Sustainability Leadership adalah yang menghelat program ini dengan mendapat perlindungan penuh dari Pangeran Charles.
Tercatat ada lebih dari 500 pendaftar dari 90 negara yang mengikuti program berhadiah bantuan finansial untuk kelanjutan proyeknya sebesar 50.000 pound sterling, dan paket bimbingan secara personal. “Saya harap dengan hadiah ini saya lebih bisa menebar lebih banyak kebaikan dengan lebih banyak menolong sesama, karena saya percaya dibalik pemberian yang besar terdapat tanggung jawab yang besar pula,” ujar Gamal seperti yang dikutip dari Establishment Post.
Lalu sebenarnya apa itu klinik asuransi sampah milik Gamal yang sukses memenangkan penghargaan ini? Sederhana saja, melalui klinik ini Gamal memberikan akses penuh terhadap fasilitas kesehatan yang memadai kepada mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi dengan juga mengedukasinya melalui aksi daur ulang sampah rumah tangga. Masyarakat diminta untuk dapat membenahi lingkungannya dengan memisahkan sampah organik dengan sampah anorganik, lalu menyetorkannya di 1 dari 5 klinik asuransi sampah untuk kemudian ditukarkan dengan asuransi kesehatan dari klinik-klinik tersebut. Dengan demikian, pengaturan limbah dan sanitasi di lingkungan masyarakat sekitar menjadi lebih baik dan tertata.
Sampah-sampah ini kemudian diproses lebih lanjut oleh klinik asuransi sampah. Sampah organik biasanya diproses menjadi pupuk, dan sampah anorganik biasanya diproses lebih lanjut untuk dijual pada para kolektor. Dokter muda berusia 24 tahun ini mengaku muncul inisiatif pada tahun 2009, ketika itu Ia masih mahasiswa kedokteran di Universitas Brawijaya, Ia mendengar berita menyedihkan bahwa ada anak berumur 3 tahun harus meregang nyawa akibat penyakit diare yang dideritanya lantaran orang tuanya tidak memiliki biaya untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Berawal dari niat mulianya, Gamal kini telah membantu lebih dari 500 kepala keluarga dalam hal akses fasilitas kesehatan. Kliniknya telah merekrut 88 relawan, 15 dokter dan 12 perawat yang kesemuanya itu dibayar dari uang yang dihasilkan dari hasil daur ulang sampah-sampah masyarakat. Selain penghargaan ini, Gamal juga telah mengantongi beberapa penghargaan lainnya terkait sepak terjangnya dalam hal pelayanan masyarakat, antara lain Inspiring Scientific Award dari Kementerian Riset dan Teknologi RI dan AusAID Indonesian Social Innovator Award.
Melalui penghargaan yang ia terima dari Pangeran Charles ini ia berpesan pada pemuda di seluruh dunia untuk tidak pernah berhenti dalam melakukan hal baik sekecil apapun. “Tetaplah dalam jalan kebaikan, karena sesungguhnya itulah jalan Tuhan. Siapapun yang berjalan di jalan kebaikan sesungguhnya ia berjalan beriringan dengan Tuhan,” tambahnya.