Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva saat memimpin sidang begitu terlihat serius. Tegas dan berwibawa.Di balik wajah seriusnya sebagai seorang hakim, ternyata Hamdan adalah orang yang romantis. Beberapa hari lalu, pria kelahiran Kota Bima, Nusa Tenggara Barat ini menceritakan kisah masa mudanya. Termasuk saat pacaran hingga menikah.Berikut ini ceritanya, Kamis (28/8):
Advertisement
Cinta lokasi
Di balik kesuksesan suami tentu ada peran istri yang selalu memberikan doa dan dorongan. Itu pula yang dirasakan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva.Di mata seorang Hamdan, Nina Damayanti tak sekadar istri. Nina adalah teman sehidup semati yang dimiliki Hamdan. Kebahagiaan keduanya makin lengkap dengan kehadiran tiga orang buah hati mereka Muhammad Faris Aufar, Ahmad Arya Hanafi dan A Adib Karamy.Kepada awak KLN Network, Hamdan coba membagi kisah cintanya sebelum akhirnya resmi meminang Nina pada Januari 1991."Jadi cinta lokasi. Sama-sama masuk di OC Kaligis, saya senior, istri saya itu ya junior saya. Karena ketemu saban hari, ya pacaranlah," cerita Hamdan, dalam perbincangan santai di Gedung Mahkamah Konstitusi.
Advertisement
Pacaran singkat, langsung melamar
Hamdan dan Nina tak menghabiskan banyak waktu untuk pacaran. Bermodal nekat, Hamdan melamar Nina yang berasal dari keluarga berada."Tidak terlalu lama, tidak sampai satu atau dua tahun. Nekatnya saya, ngelamarnya sendiri karena orangtua saya tinggal di kampung, enggak punya apa-apa. Sedangkan dia ayahnya pejabat. Jadi saya melamar tanpa modal apa-apa ini, sampai tentukan tanggal kawinnya juga sendiri," ujarnya.Sudah melamar dan punya tanggal pernikahan, ada satu hal penting yang sebenarnya belum dia persiapkan. Yakni modal untuk menikah. Dia tak punya gambaran berapa besar dana yang harus dikeluarkan untuk sebuah pesta pernikahan di Jakarta."Jadi saat itu saya tidak punya uang," kelakarnya.
Advertisement
Pulang kampung minta restu
Dia tengah kebimbangan karena tak punya uang, Hamdan yakin pasti akan ada jalan. Sebelum hari bahagia itu tiba, dia pulang ke Bima untuk bertemu orangtuanya dan meminta restu."Rupanya waktu saya di Bima, saya ditelepon sama orang Belanda untuk menangani kasusnya di Bali," tambahnya.Tawaran itu pun tak dia sia-siakan. Kegelisahan Hamdan saat itu soal biaya pernikahan selesai dan pesta pernikahan meriah akhirnya dihelat di Jakarta.
Advertisement
Akhirnya mampu beli mobil
Setelah menangani kasus besar di Bali, itu menjadi berkah bagi Hamdan. Dia mampu membahagiakan istri dan keluarganya."Balik saya dari Bali, dapat kasus besar, kawin berlangsung dengan baik. Padahal saya tidak tahu, benar-benar tidak punya apa-apa," katanya. Jadi kawin, beli mobil, wah bangga juga sama mertua kan," ucapnya tersipu.