Cari uang asing, preman bandara nyaris telanjangi TKI

Sejumlah TKI mengadukan praktik-praktik pemerasan yang dialami di Bandara Soekarno-Hatta kepada KPK.

Aryo Putranto Saptohutomo
Cari uang asing, preman bandara nyaris telanjangi TKI
Migrant Care serahkan data pemerasan TKI ke KPK. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Praktik culas dilakukan oleh aparat dalam melayani keberangkatan dan kepulangan Tenaga Kerja Indonesia diungkap oleh dua pekerja ikut dalam pertemuan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi hari ini. Dari cerita mereka, bisa dibayangkan bagaimana rapinya mafia pemeras para pahlawan devisa beraksi.Sebut saja pekerja berinisial S. Perempuan berumur 30 tahun itu menerangkan bagaimana dia diperas saat pulang dari negara tempatnya mengadu nasib, Brunei Darussalam. Dia mengaku, praktik pemerasan melalui cara pungutan liar sudah dimulai sejak para TKI tiba di Terminal khusus TKI Bandara Soekarno-Hatta dan akan berpindah menggunakan bus."Nah itu kita dari Terminal 2 dikumpulin supaya semua lewat Terminal TKI diangkut bus. Sewaktu naik bus barang-barang kita itu dibawa sama porter dimasukin ke bus. Itu kita mesti bayar," kata S kepada awak media di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (6/8).Lantas, S mengaku saat akan turun, dia harus merogoh kocek lagi buat membayar sopir. Hal sama juga dilakukan saat hendak mengambil barang bawaan mereka. Kalau bayaran dirasa kurang, S mengatakan para sopir atau pembawa barang itu tak segan langsung mencibir."Setelah itu kita masuk dulu ke pendataan, bayar Rp 25 ribu. Jadi setiap TKI yang datang, didata bayar Rp 25 ribu. Kemudian dikumpulkan kita tujuan ke mana," sambung S.Pengakuan buruh migran lainnya berinisial M bahkan dirasa lebih perih. Dia mengaku diperlakukan buruk saat tiba di tanah air. Maksud hati ingin bergembira dengan membawa mata uang asing dan menukarkannya dengan harga tinggi, tapi dia malah dipaksa oleh preman dan petugas menukar di Terminal II dengan kurs di bawah pasar. Bahkan, dia mengaku para petugas sampai memaksa kawannya asal Purwodadi, Jawa Tengah, menanggalkan pakaian buat mencari uang asing sengaja disembunyikan."Di terminal itu ada yang dipaksain tukar mata uang asing dengan cara paksa, bahkan ada yang sampai mau ditelanjangi segala," ujar M.M mengaku bingung saat hendak melaporkan perlakuan kejam itu. Sebab menurut pengamatan dia, pihak BNP2TKI atau aparat keamanan mestinya bisa menjadi solusi justru ikut menjadi bagian permainan pemerasan para TKI. Bahkan, saat akan pulang menggunakan jasa bus dari BNP2TKI, dia justru mesti merogoh kocek sangat dalam buat membayar ongkosnya. Dia lantas memilih mengadukan hal itu kepada lembaga nirlaba Migrant CARE."Orang kita enggak bisa melapor ke polisi. Orang di situ ada yang pakai seragam polisi. Yang kita bikin agak bingung, pemerintah kok begitu?" sambung M.

Rekomendasi