Teken MoU di peternakan NTT, Jokowi pakai busana adat Amarasi

"Kita punya ternaknya. Jakarta tidak punya. Ini kita jadikan payung hukum untuk kedua Pemprov," jelas Frans.

Saugy Riyandi
Oleh Saugy Riyandi - Reporter
Teken MoU di peternakan NTT, Jokowi pakai busana adat Amarasi
Jokowi dan Frans Lebu. ©2014 merdeka.com/saugy riyandi

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) memantau peternakan sapi milik warga di Desa Ponain, Amarasi, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus melakukan penandatangan kerja sama terkait peternakan dan pengelolaan daging sapi. Kedatangan Jokowi langsung disambut para masyarakat adat Amarasi.Jokowi yang didampingi Gubernur NTT Frans Lebu Raya tiba pada pukul 12.30 WITA. Saat menuju tempat penandatanganan, Jokowi dipakaikan busana khas adat Amarasi yaitu Kain Timor Amarisi Pou atau destar dan Selendang Amarasi Terunat oleh ketua adat setempat.Penyambutan tersebut menunjukkan Jokowi telah menjadi bagian dari keluarga adat Amarasi dan diterima dengan baik. "Selamat datang Pak Jokowi, kain dan selendang tersebut menandakan Jokowi telah diterima di masyarakat adat Amarasi dan menjadi salah satu keluarga Amarasi," ujar pembawa acara penandatanganan tersebut di Kupang, NTT, Selasa (29/4).Frans mengatakan Jokowi sendiri yang meminta penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan di tempat peternakan Ponain. "Kenapa di sini? Kan biasanya dua petinggi daerah itu melakukan tandatangan di tempat kerja gubernur. Tetapi, Pak Jokowi minta jangan di tempat gubernur. Langsung di tempat peternakan saja. Makanya kita pilih Desa Ponain," kata Frans.Frans menegaskan kebutuhan daging sapi di Jakarta mencapai 60 persen. Sedangkan, pasokannya sangat minim sehingga dengan adanya kerja sama ini maka NTT akan memenuhi pasokan daging sapi ke DKI Jakarta. "Kita punya ternaknya. Jakarta tidak punya. Ini kita jadikan payung hukum untuk kedua Pemprov," jelas Frans.Sementara itu, Jokowi mengatakan permasalahan pasokan daging sapi di Jakarta sangat minim sehingga harga daging sapi sempat mencapai Rp 160.000 per kilogram (kg) beberapa bulan lalu. Untuk itu, kerja sama tersebut bakal menutupi kekurangan pasokan daging sapi tanpa harus ketergantungan dengan impor."Kebutuhan daging sapi masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya mencapai 150 ton per hari. Jumlah tersebut setara dengan 1.500 ekor sapi setiap harinya. Sekitar 6 bulan lalu, harga daging di DKI Jakarta itu mencapai Rp 160.000. Dulu saya yang ditunjuk-tunjuk tukang bakso, tukang daging. Gimana nutupinya? Ya sudah impor," kata Jokowi."NTT kan punya banyak peternakan. Kita males pusing-pusing impor. Kita kerja sama saja dengan NTT. Dan baru hari ini kita tandatangani kerja sama itu. Kita bersyukur, potensi di NTT itu memungkinkan untuk dilakukan kerja sama. Kita semua akan mendapatkan manfaat," ujarnya.

Rekomendasi