Meski letaknya sangat dekat dengan areal lapak hewan kuliner yang menjajakan daging-daging hewan liar, ternyata tak satu pun warung makan di kompleks Pasar Beriman Tomohon menjual menu makanan berbahan dasar daging ular. Beberapa pemilik warung mengaku ngeri dan jijik dengan hewan melata ini.Pengamatan merdeka.com, tidak ada warung menyediakan menu daging ular. "Saya enggak jual menu begituan," ujar Nonce, pemilik warung makan di sekitar pasar, Sabtu (1/3).Ia mengaku, dalam keluarga hanya menantunya saja gemar melahap daging piton. Meski selama ini tak menyediakan menu ular, untuk menyenangkan hati pelanggan ia bersedia memasakkan makanan hewan berkulit loreng tersebut."Ya kalau ada yang pesan terpaksa saya bikinkan. Cuma selama ini enggak pernah ada yang pesan," jelas wanita berkulit putih ini.Beranjak ke warung-warung lain disekitar pasar, jawaban sama keluar dari mulut penjaja makanan tersebut. Rasa jijik, geli sekaligus takut membuat mereka enggan mengolah makanan dari daging ular."Kalau tikus, kelelawar, babi hutan dan yang lainnya itu biasa disajikan di sini," tutur pengelola rumah makan yang berada dekat penjual baju bekas. Pernyataan mereka diiyakan oleh beberapa pelanggan yang sedang menikmati makanannya.Meski memang terkenal sebagai pelahap daging-daging hewan yang tak lazim dikonsumsi, warga Tomohon dan Minahasa umumnya enggan menyantap daging piton. Hanya sebagian kecil warga doyan makanan tersebut."Enak, apalagi jika dimasak santan kering," ucap Windy Wongkar salah satu penggemar daging ular. Ia mengaku suka rebutan dengan anggota keluarga lain jika menu ekstrem tersebut tersedia di meja makan.
Daging ular piton jarang disajikan di warung makan Pasar Tomohon
Alasannya banyak warga yang jijik dengan daging ular.
Rekomendasi