Organisasi Lingkungan Global (WWF) Riau mencatat dalam kurun waktu 3 tahun, tercatat 46 gajah mati secara misterius. Sebagian gajah yang mati itu ditemukan tanpa gading."Pada 2011 terdata ada sebanyak 10 ekor gajah Sumatera ditemukan mati, sebagian besar tanpa gading," kata Humas WWF Riau, Syamsidar seperti yang dilansir Antara, Minggu (23/2).Syamsidar mengatakan bangkai-bangkai gajah itu ditemukan di dua lokasi hutan dan kawasan konsesi perusahaan Kota Duri, Bengkalis dan di Kabupaten Kuantan Singingi. Tahun 2012 juga ditemukan 15 bangkai gajah liar di sejumlah wilayah Provinsi Riau pada berbagai kawasan, hutan bahkan perkebunan milik perusahaan dan masyarakat."Sebanyak 12 di antaranya ketika itu ditemukan di kawasan Taman Nasional Tessi Nillo," kata Syamsidar.Pada Tahun 2013, kata Syamsidar, ditemukan 14 bangkai gajah dari anak hingga dewasa, 13 di antaranya berada di sekitar blok Taman Nasional Tesso Nillo dan satu lagi di konsesi perusahaan. Terakhir ditahun ini, ada 9 bangkai gajah yang ditemukan dengan kondisi mengenaskan."Satu di antaranya ditemukan masyarakat kritis di wilayah Minas, dan akhirnya mati, kemudian di sekitar konsesi milik perusahaan hutan tanam industri," jelas Syamsidar.Syamsidar menambahkan, 7 gajah lainnya ditemukan dalam kondisi tinggal kerangka di sekitar konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Kabupaten Pelalawan. Dikabarkan, saat ditemukan sebagian hewan malang itu tanpa gading.Karena hal itu, patut dicurigai kematiannya akibat dibunuh. WWF berharap pemerintah bertindak tegas menjerat hukuman terhadap pelaku. Sebab, gajah merupakan hewan yang dilindungi negara ini."Gajah adalah tanggung jawab bersama karena satwa ini dilindungi oleh negara. Semua harus berupaya sesuai dengan tanggung jawabnya untuk meminimalisasi kematian gajah. Penegakan hukum harus dilakukan dan WWF mendorong hal itu. Karena faktanya, sampai sekarang belum ada pelaku yang ditindak secara hukum," pungkasnya.
Kurun waktu 3 tahun, 46 gajah mati misterius
"Sebagian besar (mati) tanpa gading," kata Humas WWF Riau, Syamsidar.
Advertisement
Rekomendasi