Babe' Akil minta Hambit urus sengketa pilkada ke Chairun Nisa

Beberapa hari kemudian, Nisa mengontak Hambit menanyakan soal duit suap buat Akil sebesar Rp 3 miliar.

Aryo Putranto Saptohutomo
Babe' Akil minta Hambit urus sengketa pilkada ke Chairun Nisa
Hambit Bintih jalani sidang di Pengadilan Tipikor. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Gunung Mas di Mahkamah Konstitusi, Hambit Bintih, mengungkap sapaan lain mantan Ketua MK, Akil Mochtar, dan politikus Partai Golkar, Chairun Nisa. Menurut Hambit, sapaan itu juga dia dengar dari orang dekat keduanya.Hambit mengatakan, dia pernah diajak oleh Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia cabang Kalimantan Tengah, Dodi Sitanggang, bertandang ke rumah dinas Ketua MK di Jalan Widya Chandra III Nomor VII. Kebetulan, Hambit pernah menjadi Ketua Umum FPTI Gunung Mas saat menjabat sebagai Bupati pada periode pertama. Hambit berkelit saat itu Dodi yang memaksanya menemui Akil, setelah perkara gugatan Pilkada Gunung Mas didaftarkan. Padahal, lanjut dia, Akil sempat menolak bertemu."Saya dipaksa ikut sama Dodi ke rumah Babe (Akil). Kata dia pokoknya kita mesti ketemu Babe. Ya akhirnya kita jalan naik taksi ke Widya Chandra. Waktu itu Jumat sore. Pak Akil baru pulang dari Salatiga," kata Hambit saat bersaksi dalam sidang Chairun Nisa, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (6/2).Namun, lanjut Hambit, sebelum bertandang ke rumah dinas Akil, Dodi sempat memintanya membeli sepatu kets dan kaos kerah. Dia juga sempat bingung dengan permintaan Dodi."Saya disuruh beli kaos dan sepatu kets. Katanya biar santai saja. Saya kan enggak berani awalnya. 'Ini mau ke rumah Ketua MK. Jangan main-main,' saya bilang. Tapi Dodi bilang, 'udah enggak apa-apa. Pak Hambit tenang saja'," ujar Hambit.Setelah bertukar pakaian, mereka lantas meluncur ke rumah dinas Akil. Tetapi sesampainya di sana, Hambit melihat pemandangan yang aneh. Dia menyaksikan betapa mudahnya orang asing keluar masuk rumah dinas Ketua MK."Sampai di sana, saya dan Dodi masuk enggak lapor penjaga rumah. Saya kaget lihat di teras ada beberapa ketua FPTI. Ada ketua FPTI Aceh, Pontianak. Mereka berseliweran di rumah itu. Saya pikir, kok berani sekali mereka. Itu kan rumah pejabat. Tapi mereka bisa bebas makan-minum merokok," terang Hambit.Akhirnya, Hambit mengaku dipertemukan dengan Akil oleh Dodi. Saat itu, dia melihat Hambit sedang membaca koran, dan mengenakan kaos merah dan celana pendek. Menurut penglihatan Hambit, kondisi rumah itu masih berantakan karena Akil baru pindah setelah dilantik.Hambit mengatakan, saat itu Akil bertanya soal keperluannya bertemu. Hambit lantas menanyakan soal sengketa Pilkada Gunung Mas. Akil lantas memaparkan laporan kecurangan adanya politik uang, perusakan surat suara, dan pemilih fiktif yang mencapai 1.200 orang. Dia mengaku sempat tersinggung dengan perkataan Akil yang menyebut hal itu adalah permainan calon incumbent (petahana)."Kemudian Pak Akil bilang, 'Ya sudah, urusannya sama ibu saja nanti'. Saya langsung pikir yang dimaksud ibu ya Bu Chairun Nisa. Berarti cocok dengan pembicaraan sebelumnya. Enggak lama kemudian Dodi masuk dan minta supaya jangan lama-lama ketemu Babe," ucap Hambit.Beberapa hari kemudian, Nisa mengontak Hambit menanyakan soal duit suap buat Akil sebesar Rp 3 miliar. Di luar dugaan, ternyata Dodi juga menghubunginya menanyakan hal sama."Dodi dengan marah-marah ke saya juga bilang, 'kata Babe mana uangnya. Suruh cepat. Jangan kelamaan'. Padahal waktu pertemuan dengan Pak Akil bersama Dodi itu enggak membahas uang. Saya curiga Akil juga minta lewat Dodi," tandas Hambit.

Rekomendasi