320.000 Malapetaka di Rebo Wekasan hanya mitos tanpa dalil

Sementara untuk menangkal tolak bala atau bencana ini, sebagian masyarakat memiliki cara masing-masing.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
320.000 Malapetaka di Rebo Wekasan hanya mitos tanpa dalil
Tahun baru di Brasil. ©2013 Merdeka.com/newyears-brazil.com

Sebagian masyarakat Jawa masih 'tunduk' pada tradisi ritual Rebo Wekasan. Mitos hari terakhir di bulan Shafar dalam penanggalan Hijriyah ini, diyakini sebagai hari diturunkannya 320.000 malapetaka (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya).Kepercayaan terhadap mitos Rebo Wekasan ini, juga bukan hal baru bagi sebagian masyarakat, hanya saja khusus tahun ini ada agak sedikit berbeda, karena bertepatan dengan malam Tahun Baru 2014. Terlebih lagi, beredar broadcast via BlackBerry Mesengger (BBM) yang berisi peringatan bahaya Rebo Wekasan.Sementara untuk menangkal tolak bala ini, sebagian masyarakat memiliki cara masing-masing. Sebagian umat Islam menggelar Salat Sunnah Lidaf’il bala’ empat rakaat dengan satu kali salam di waktu dhuha, sebagian lagi menggelar tirakatan puasa dan bersedekah kepada fakir miskin. Ada juga yang menggunakan caranya sendiri-sendiri sesuai dengan keyakinannya masing-masing.Berbeda lagi bagi Muhammadiyah, mereka menganggap, setiap umat muslim yang berdoa untuk keselamatan atau tolak balak, tidak harus di hari Rebo Wekasan, tapi setiap hari. Sebab, musibah itu datang tak terduga."Makanya manusia diwajibkan bersyukur dan berdoa. Dan berdoa tolak bala itu tidak harus menunggu hari Rebu Wekasan," terang Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur Nadjib Hamid, Selasa (31/12). Terkait mitos Rebo Wekasan, pria yang juga menjadi salah satu komisioner KPU Jawa Timur menegaskan, kalau dirinya tidak mempercayai masalah tersebut.Menurutnya, tiap bencana adalah kehendak Allah tanpa harus menunggu hari-hari tertentu. "Namanya juga mitos. Tapi jika dikaitkan dengan tahun baru akan ada bencana, mungkin ada benarnya kalau perayaan malam tahun baru dilakukan secara berlebih-lebih," katanya.Setiap pergantian tahun, data di kepolisian menunjukkan adanya kejadian laka lantas yang meningkat. "Itu karena dirayakan secara berlebihan," katanya lagi.Nadjib menegaskan, pergantian hari, bulan dan tahun itu Sunnatullah, yang tidak bisa dipungkiri. Sehingga, jika timbul bencana, itu bukan karena hari Rebo Wekasan, melainkan karena perbuatan manusia yang berlebih-lebihan."Seharusnya, tahun baru ini digunakan untuk ber-munajah atau introspeksi diri. Kalau hanya untuk hura-hura, mabuk-mabukan maka tidak salah Allah menurunkan balak. Ini bukan karena hari tapi lebih pada perbuatan manusianya," ucapnya diplomatis. Sementara bagi kalangan Nahdliyin, di setiap hari Rebo Wekasan kerap menggelar doa tolak balak sebagai representasi kaum Sunni di Indonesia. Untuk itu, di kalangan Nahdliyin, Rebo Wekasan kerap diisi dengan bacaan-bacaan salawat.Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdhotul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Saleh Hayat mengatakan, masyarakat Nahdliyyin memang mengenal Rebo Wekasan. "Kalangan Sunni memang akrab dengan Rebo Wekasan. Di Indonesian biasanya warga Nahdliyyin menggunakan hari itu untuk memperbanyak salawat, dzikir dan membaca doa tolak balak," kata Saleh.Namun, dia menolak jika ada mitos akan terjadi malapetaka besar di hari Rebo Wekasan. Sebab menurutnya, tidak ada ayat atau hadist yang menerangkan masalah tersebut. Kata Saleh, setiap orang yang tertimpa musibah bukan lantaran hari atau bulan apa, melainkan atas kehendak Allah."Tidak peduli, hari Rebo Wekasan atau hari apa, jika waktunya celaka ya celaka juga, karena itu sudah menjadi garis yang ditentukan Allah, manusia hanya bisa berusaha menghindari musibah itu. Segalanya berpulang kepada Allah semata, mari semua kita kembalikan pada yang gaib," imbau dia.Terkait dengan tahun baru, yang bertepatan dengan Rebo Wekasan dan dikait-kaitkan dengan bencana, senada dengan Nadjib Hamid, anggota Komisi E DPRD Jawa Timur ini menegaskan, anggapan itu (mitos Rebo Wekasan) itu wajar. Karena perayaan tahun baru selalu identik dengan hura-hura dan pesta pora. Sehingga, jika malapetaka itu hadir, karena manusianya suka berbuat kemungkaran di pergantian tahun."Ini kita anggap sebagai peringatan dari Allah. Watak pergantian tahun itu kan selalu identik dengan berbuat maksiat seperti mabuk-mabukkan, hura-hura dan lain sebagainya. Jadi wajar saja, karena semua berasal dari kelalaian manusia itu sendiri. Jika dikaitkan dengan Rebo Wekasan itu hanya mitos," tegas Saleh.

Rekomendasi