Pengamat teroris Nur Huda Ismail menduga pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso, Senin (3/6) lalu masih memiliki kaitan dengan kelompok teroris pimpinan Abu Roban. Dia meminta polisi waspada, karena bukan tidak mungkin ada pelaku lain yang akan beraksi."Saya menduga jika pelaku masih ada kaitanya dengan Abu Roban. Tapi yang paling penting dan harus diwaspadai pihak kepolisian adalah latar belakang pelaku, karena jika ada satu orang pelaku biasanya ada potensi pelaku-pelaku lain yang siap untuk menggantikannya," katanya kepada wartawan di sebuah rumah makan di Jl Wijaya Kusuma No 5 Semarang, Jawa Tengah, Rabu (5/6).Menurutnya, target para teroris saat ini telah berubah, yakni dari tempat yang berbau kepentingan barat kepada polisi. Dia menilai, pergeseran target itu dikarenakan polisi dianggap para teroris menjadi penghalang utama mereka."Dulu sekitar tahun 2002-2009 semua sasaran untuk tindakan kekerasan terorisme mengarah kepada semua kepentingan negara barat, seperti bom Bali, Hotel Marriot, Kedutaan Australia dan masih banyak aksi teror yang lainnya," jelasnya."Sejak tahun 2009 ke atas mereka sudah tidak lagi menyikat kepentingan barat, tetapi menyikat kepolisian yang dianggap menghalangi kepentingan kelompok teror," ucapnya.Dia mengatakan, kebencian para teroris kepada polisi semakin memuncak setelah beredar kabar tiga teroris yang digerebek tim Densus 88 di Kebumen bukan meninggal karena ditembak, melainkan karena disiksa."Hal ini tentunya membuat lingkaran baru kebencian terhadap kepolisian. Bisa jadi kejadian ini adalah bentuk bukti bahwa kelompok mereka mampu membalas dendam, dan yang menarik lagi adalah kejadian bom bunuh diri ini merupakan yang pertama terjadi di luar Jawa Tengah," tambahnya.
Dianggap musuh, polisi jadi target teroris
Polisi diminta waspada, karena bukan tidak mungkin ada pelaku lain yang akan beraksi.
Rekomendasi