Sri Kadarwati, Kepala Satpol PP wanita andalan Jokowi di Solo

Langkah Jokowi mengangkat kepala satpol PP wanita di Jakarta mengingatkan langkahnya di Solo dulu.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Sri Kadarwati, Kepala Satpol PP wanita andalan Jokowi di Solo
Sri Kadarwati Satpol PP Solo. ©2013 Merdeka.com

Hari ini, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo melantik Sylviana Murni menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi pamong Praja (Kasatpol PP). Sylviana menggantikan sementara jabatan yang ditinggalkan Effendi Anas karena telah melalui tiga kali masa perpanjangan.Langkah Jokowi mengangkat kembali seorang wanita menjadi pemimpin pasukan penegak perda di Jakarta mengingatkan kembali atas kebijakan yang dia ambil saat memimpin Solo beberapa tahun lalu. Ketika itu, Jokowi mengangkat Sri Kadarwati sebagai Kasatpol PP Kota Solo selama satu tahun menggantikan Hasta Gunawan. Di tangan Sri, Kasatpol PP mampu bertranformasi dari satuan yang dikenal arogan dan kasar, menjadi lembut dan mampu mengayomi masyarakat.Sri selalu menggunakan pendekatan kekeluargaan saat akan menertibkan PKL. Berbeda dengan Satpol PP di kota lain yang dipersenjatai pentungan dan tameng, di Solo perlengkapan tersebut, atas perintah Jokowi, mulai dikandangkan."Banyak PKL di Solo yang sebenarnya susah diatur, terutama PKL baru. Tapi dengan pendekatan kekeluargaan, semua bisa ditertibkan. Meski pendekatan secara halus, tapi yang namanya aturan tetap kita tegakkan," ujar Sri Kadarwati ketika ditemui merdeka.com di Balai Kota Solo, Jumat (22/2).Saat menjadi Kepala Satpol PP, Kadarwati yang saat ini menjabat sebagai Kabag Kesra Pemkot Solo, selalu menggandeng aparat Kepolisian jika akan menertibkan PKL."Kita selalu menggandeng kepolisian, jika berisiko. Tapi kalau tak berisiko, kita sendiri, tanpa senjata apapun," tambahnya.Menurut Kadarwati, selama menjabat sebagai Kepala Satpol PP dirinya mengaku siap 24 jam. Dirinya beralasan, PKL di Solo bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Lagi pula, lanjutnya wali Kota kala itu, Jokowi siap memerintah kapan saja."Pak Jokowi itu kapan saja, nggak mengenal waktu telepon. Memberitahukan ada PKL yang harus ditertibkan. Ya saya harus siap dan berangkat. Bahkan hari libur pun saya harus siap," ungkapnya.Menanggapi perlawanan yang mungkin dilakukan oleh PKL, pengemis, atau kelompok tertentu saat penertiban, Kadarwati yang kesehariannya tampil lembut dan keibuan, mengaku tak gentar. Dirinya menganggap itu sebagai risiko sebuah pekerjaan, yang harus dijalankan. Bicara pengalaman saat penertiban, Kadarwati mengaku pernah beradu mulut dengan PKL."Pernah kita beradu mulut dengan PKL, terutama PKL pemula. Biasalah mereka kan belum tahu peraturan yang kita terapkan. Jadi harus bersabar. Kita berikan peringatan, bahwa ada larangan berjualan. Tapi kalau besoknya nekat menggelar dagangannya lagi, ya kita angkut," katanya.Menanggapi Satpol PP di kota lain yang dipersenjatai, Kadarwati yang menjabat Kepala Satpol PP Solo dari Januari hingga Desember 2011 tersebut mengaku, sebenarnya perlu senjata. Namun harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dia menilai di Solo tidak diperlukan senjata, seperti tameng, pentungan atau senjata yang lain. Masyarakat Solo menurutnya, sangat santun dan bisa diajak berdiskusi, untuk mencari pemecahan masalah."Kalau di kota lain pakai senjata ya terserah saja. Tapi kalau di Solo saya kira tak perlu senjata, karena masyarakatnya masih bisa diajak untuk berkompromi. Pendekatan persuasif saya kira lebih tepat," pungkasnya.

Rekomendasi