Dahlan harusnya minta keselamatan ke Allah bukan ruwatan

Apa yang dilakukan Ki Manteb kemarin bukan ruwatan, melainkan seperti ritual pelepasan kontingen yang akan berlomba.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Dahlan harusnya minta keselamatan ke Allah bukan ruwatan
Tucuxi kecelakaan. ©2013 Merdeka.com

Kecelakaan yang menimpa Meneg BUMN bersama mobil Tucuxi yang dikendarainya, menimbulkan pro kontra di kalangan budayawan.Wakil Pangageng Sasana Wilapa (Juru bicara) keraton Surakarta Kanjeng Pangeran (KP) Winarnakusumo mengatakan, mobil Tacuxi sebenarnya tak perlu diruwat atau dimandikan dengan air. Apalagi air tersebut berasal dari berbagai sumber mata air, dan harus dari 4 penjuru. Winarna yang sering dipanggil Kanjeng Win tersebut mengungkapkan, baik Meneg BUMN Dahlan Iskan maupun mobil Tacuxi, hanya perlu berdoa atau di doakan saja."Sebagai hamba Allah SWT, kita itu wajib berdoa, untuk keselamatan diri kita sendiri, dan barang-barang yang kita cintai. Itu lebih baik kita lakukan sendiri tanpa perantara apapun," ujarnya ketika dihubungi merdeka.com, Senin (7/1).Menurut Kanjeng Win, orang yang akan melakukan ruwatan, atau meruwat seseorang atau barang, haruslah terlebih dahulu mensucikan dirinya. Menanggapi diruwatnya Tacuxi, Kanjeng Win tidak mempermasalahkannya."Benda hidup atau mati itu menurut saya sama saja, bisa diruwat, atau didoakan. Yang penting yang mendoakan ini harus percaya pada kekuasaan Allah SWT. Silakan, tapi menurut saya, cukup didoakan saja, tak perlu sampai dimandikan segala," katanya.Sementara itu menurut pakar ruwat Solo, Kanjeng Raden Aryo (KRAr) Mulyono Adi Nagoro apa yang dilakukan Ki Manteb Soedharsono bukanlah sebuah ritual ruwatan untuk mobil Tucuxi. Melainkan hanya doa untuk keselamatan Meneg BUMN, Dahlan Iskan saja."Kalau ruwatan Tucuxi itu harus ada penyelarasan antara besi (mobil Tucuxi) dengan tanah yang akan dilalui. Dalam ruwatan kemarin, belum bisa dikatakan sebagai ruwatan. Itu hanya ritual biasa, semacam pelepasan kontingen apa gitu. Untuk meruwat Tucuxi, antara mobil dan tanah yang akan dilalui harus dimajemukkan," kata Kanjeng Adi, panggilan akrab KRAr Mulyono Adi Nagoro.

Rekomendasi