Saat pocong tidak seram lagi

Belakangan tayangan horor dibalut komedi dan sedikit bumbu erotis membanjiri bioskop dalam negeri.

Aryo Putranto Saptohutomo
Saat pocong tidak seram lagi
pocong. ©blogspot.com

Sosok pocong di layar lebar saat ini tidak lagi terbatas pada cerita seram dan mendebarkan jantung. Tetapi, kebangkitan dunia perfilman Indonesia ternyata membuat dedemit legendaris ini lambat laun makin luntur kesan horornya.Sudah banyak film Indonesia menggunakan sosok pocong sebagai jualan utama. Apalagi belakangan tayangan horor dibalut komedi dan sedikit bumbu erotis membanjiri bioskop dalam negeri. Meski kadang judulnya kurang sedap didengar, toh tetap saja para produser meraup untung.Coba tengok film bertajuk Mr. Bean Kesurupan Depe. Sebelum tayang, promosi film itu cukup membikin penasaran. Apalagi dengan embel-embel pemain Mr. Bean dan Dewi Perssik yang sensasional itu. Dia sempat membuat macet lalu lintas di seputar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, cuma buat mengiklankan filmnya itu. Tetapi, tidak lama kemudian film itu bikin heboh lantaran dianggap membohongi masyarakat. Pemeran Mr. Bean dalam film itu ternyata bukan Rowan Atkinson, pemeran asli serial televisi Mr. Bean dari Inggris. Sontak masyarakat yang kecewa menumpahkan sumpah serapah mereka lewat beragam jejaring sosial, macam Facebook dan Twitter. Sang produser, KK Dheeraj, akhirnya minta maaf kepada masyarakat.Dalam film itu, Mr. Bean palsu itu mau saja diberi peran sebagai pocong. Mungkin bisa diistilahkan pocong impor. Entah apa jadinya jika Rowan Atkinson ditawari peran pocong dalam film itu. Toh, hasil akhirnya, sosok pocong dalam film itu tidak seram-seram amat. Malah cenderung sekedar umbar kekonyolan. Lihat saja dalam salah satu adegan, ada sekumpulan pocong berbalut kain kafan warna-warni. Coba bayangkan, mana ada sejarahnya pocong menggunakan kain kafan warna mencolok seperti kuning, merah, hijau. Hal itu tidak terkesan seram sedikit pun, lucu apalagi.Ada lagi film layar lebar bertajuk Pocong Mandi Goyang Pinggul. Demi mendongkrak popularitas, lagi-lagi sang produser, KK Dheeraj, melakukan terobosan. Tetapi, buat sebagian orang, cara dia dianggap menantang. KK Dheeraj sampai harus mengimpor bintang porno papan atas asal Amerika Serikat, Sasha Grey, buat bermain dalam film itu.Mungkin dia ingin menghadirkan sensasi sensual, macam film horor garapan Hollywood. Tetapi bukannya pujian didapat, malah cacian dan cibiran datang silih berganti. Sampai-sampai sebuah organisasi massa Islam dibuat berang dengan langkah KK.Ditilik dari judulnya saja, film itu sudah bikin bingung. Entah apa yang ada di pikiran pembuat film itu. Memang sisi horor menegangkan ingin dihadirkan dalam film ini. Tetapi, isi filmnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pocong sedang mandi. Apalagi sampai harus goyang pinggul segala.Bisa dibilang, hal ini adalah bentuk ketidakhormatan para sineas terhadap para penikmat film horor tanah air. Lelaku mereka bukannya mendapat sambutan meriah, malah penonton dibuat jengah. Para penonton film horor di Indonesia saat ini bukannya disuguhkan film tema seram berkualitas. Tetapi harus menerima begitu saja film tema pocong, yang antara judul dan isinya saja tidak nyambung.Namun, kembali lagi, mungkin para sineas yang tekun di jalan horor juga memiliki idealisme. Cuma sayang, permintaan penyandang dana buat menggarap film laku dijual, tanpa memperhatikan kaidah, kadang tak bisa ditolak. Akhirnya banyak film serupa malah merusak prinsip film seram. Lalu pertanyaannya, siapa mesti bertanggung jawab soal itu?

Rekomendasi