Politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul menyesalkan aksi pengepungan di gedung KPK untuk menangkap Kompol Novel. Namun, dia melihat peristiwa itu banyak ditunggangi pihak-pihak tertentu untuk menaikkan pencitraan."Misalnya Fajrul kasih komentar, Adhie Masardi, Anis Baswedan yang mana ingin maju sebagai capres alternatif. Apalagi Usman yang penggiat Komnas HAM," ketus Ruhut saat berbincang dengan merdeka.com, Jakarta, Minggu (7/10).Ruhut menyebut mereka sebagai penumpang gelap yang hanya ingin meningkatkan nama mereka di mata masyarakat. Meski demikian, dia menyesalkan keputusan Polri untuk menangkap salah satu penyidik KPK, yakni Kompol Novel Baswedan."Peristiwa kemarin memang kita sesalkan, apa yang dilakukan pengepungan di Gedung KPK, yang mengepung KPK saya tak mau bilang polisi, ini oknum," tandasnya.Komisi III DPR ini juga menyayangkan sikap KPK yang tidak mau minta bantuan kepada DPR. Terlebih, peristiwa itu merupakan ketegangan antara dua institusi lembaga penegak hukum, Kepolisian dan KPK."KPK ini, Pak Samad kan adik saya, saya pesan jangan menari dan menabuh genderang kepada orang lain. Kemarin KPK bilang tak mau minta bantuan kepada Presiden dan DPR," tegas.Ruhut membantah terkait adanya tudingan sejumlah pihak yang memandang presiden diam selama peristiwa tersebut. Terutama terhadap kembali memanasnya hubungan antara KPK dengan Polri yang ditandai upaya penjemputan Kompol Novel Baswedan.Dengan lantang, Ruhut menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak tinggal diam. Sebaliknya, KPK justru tidak akan meminta bantuan kepada presiden dan menyebabkan kepala negara disinyalir hanya berdiam saja."Waktu pengepungan di Gedung KPK kemarin malam, kan ada Wamenkum HAM Denny Indrayana dan itu pembantu presiden. Ada Menkopolhukam yang sudah telpon Kapolri untuk menarik polisi yang mengepung KPK," jelas Ruhut.
Ruhut: Ada penumpang gelap dalam polemik KPK
Ruhut melihat kejadian kemarin banyak ditunggangi pihak-pihak tertentu untuk menaikkan pencitraan.
Rekomendasi