Uang Rp 250 juta sebagai hadiah Bakrie Award dinilai terlalu sedikit untuk menghargai sebuah jasa para tokoh Indonesia. Lebih baik uang senilai itu diberikan kepada Hari Suwandi, korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki Porong-Jakarta, dan belakangan minta maaf kepada Bakrie."Ya kasih aja ke dia, itu juga masih kurang buat dia. Kan kalau mau jadi presiden jangan lupa, tidak utang pada rakyat, presiden harus bersih di hati rakyat, dikenang dengan baik," kata budayawan, Mohamad Sobary, saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (3/8).Sobary mengatakan, ia juga pernah didekati oleh panitia Bakrie Award untuk menerima penghargaan tersebut. Namun, dia mengaku menolaknya."Umur-umur kita ini ya satu miliar, dua miliar-lah. Kalau award murah-murahan, kecil-kecilan, Rp 250 juta, untuk apa?" kata sahabat almarhum Gus Dur ini sambil tertawa.Sobary menilai lewat penghargaan Rp 250 juta itu, Bakrie ingin memperoleh peneguhan secara sosial dan budaya. Namun, menurutnya, hal itu tidak dilakukan dengan elegan."Jangan pura-pura memberi orang, utang yang jelas itu dengan Porong (wilayah korban lumpur Lapindo). Kalau mau bayar dulu utangnya," ujar pria asal Bantul, DIY ini.
Soal penolakan Bakrie Award oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma, Sobary juga sangat sepakat. "Kalau Bakrie kasih Rp 250 juta, itu kan sama kalau orang biasa ngasih Rp 250 ribu, untuk apa, beda kalau satu miliar," katanya kembali tertawa.Penolakan Seno mengikuti jejak beberapa pemikir dan sastrawan yang menolak atau mengembalikan penghargaan Bakrie Award dengan alasan berbeda-beda. Romo Franz Magnis Suseno, Daoed Joesoef, Sitor Situmorang, dan Goenawan Mohamad tercatat masuk dalam daftar penolak anugerah ini. Khusus Goenawan, dia menerima pada 2004 dan baru dikembalikan pada 2011.Penghargaan Ahmad Bakrie, kerap disingkat PAB, adalah kegiatan tahunan Freedom Institute bersama Grup Bakrie sejak 2003 yang memberi anugerah terhadap pemikir berjasa bagi Indonesia. Biasanya ada enam nominasi untuk cendekiawan berprestasi meliputi bidang sains, teknologi, kedokteran, sosial, hingga kesusastraan. Untuk tahun ini, PAB akan digelar tanggal 12 Agustus di Djakarta Theater.Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958 adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, Wisanggeni—Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja.Dia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).