Komnas HAM desak kepolisian amankan Bandara Mulia

Belum dibukanya bandara sangat berdampak terhadap ekonomi di bumi Papua.

Pramirvan Datu Aprillatu
Komnas HAM desak kepolisian amankan Bandara Mulia
Pesawat Twin Otter. merdeka.com/dok

Bandara Mulia, Puncak Jaya, hingga hari ini masih tutup sejak insiden penembakan terhadap pesawat Trigana Air minggu lalu. Belum dibukanya bandara sangat berdampak terhadap ekonomi di bumi Papua.Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim menyayangkan penutupan Bandara Mulia hingga hari. "Jadi pemerintah jangan mengatakan tidak mampu mengkoordinasikan keamanan Bandara Mulia yang masih ditutup harusnya sebagai aparatur dan wewenang penuh atas wilayah kedaulatan negara, tidak etis kalau pemerintah mengatakan belum bisa mengamankan," ujar Ifdal di kantornya, Jumat (13/4/2012).Sebelumnya pemerintah mejelaskan struktur geografis Papua menyulitkan pihak keamanan terutama Kepolisian dalam mengamankan Bandara Mulia, Papua maupun mengungkapkan pelaku atau kelompok yang melakukan penembakan atas insiden tersebut."Bagi pihak keamanan kesulitan lokasi karena kondisi geografis itu bukan jadi alasan utama untuk kesulitan mengungkapkan kasus penembakan tersebut maupun berkoordinasi dalam pengamanan Bandara Mulia," tambahnya.Pesawat Trigana Air ditembak oleh sekelompok orang bersenjata saat hendak mendarat di lapangan terbang Mulia, Puncak Jaya, Papua. Dalam insiden ini, satu orang tewas. Sementara empat lainnya luka-luka termasuk polot dan kopilot. Adapun identitas korban tersebut adalah:1. Leiron Kogoya Muliambut (35), wartawan Papua Pos, mengalami luka tembakan di bagian leher kanan yang mengakibatkan meninggal dunia.

2. Beby Astek(40), kapten pilot, kena serpihan di mata kaki kiri.

3. Yanti Hariminggu (30), kena serpihan di lengan kanan.

4. Papua Korwa (4), kena serpihan di jari tangan kiri.

5. Willy Resubun (30) co pilot, kena serpihan peluru di jari kanan.

Rekomendasi