Kereta kosong' PAN untuk sang besan

"Yang di Foke hanya kereta kosong. Kami sedang mempertimbangkan untuk membiarkan atau dicabut," kata Didik J Rachbini.

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
Kereta kosong' PAN untuk sang besan
Ketum PAN Hatta Rajasa. merdeka.com/dok

Tiga nama itu diajukan langsung Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Hatta Rajasa, kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Didik Junaidi Rachbini, satu dari tiga nama itu, akhirnya resmi diambil PKS menjadi pendamping Muhammad Hidayat Nur Wahid di Pilgub DKI."Ada tiga calon yang diajukan, tapi kami memilih Pak Didik," kata Hidayat usai melayat ibunda Aburizal Bakrie di Jakarta, Rabu (21/3). Di struktural PAN, Didik menjabat sebagai ketua DPP bidang Penelitian dan Pengembangan. Lantas siapa dua calon yang lain? Hidayat enggan menyebutkan. Namun, sumber merdeka.com di DPP PAN menyebutkan dua nama itu yakni Harsha E Joesoef (Dubes RI untuk Slovakia) dan Wanda Hamidah, anggota Fraksi PAN DPRD DKI.Menurut sumber itu, Harsha yang juga bos perusahaan ekspedisi terbesar tersebut adalah teman dekat Hatta waktu kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sumber itu juga membenarkan Wanda tidak dipilih karena perempuan cantik itu tidak memakai jilbab, sesuatu yang dikhawatirkan akan mempengaruhi pemilih PKS."Benar karena jilbab," ujar sumber tersebut sambil tertawa.Setelah Didik resmi dipilih menjadi pendamping Hidayat, polemik di tubuh PAN tidak surut begitu saja. Di sisi lain DPW PAN DKI justru mengusung pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Berkoalisi dengan Partai Demokrat dan beberapa partai lainnya, dukungan PAN di atas kertas akhirnya jatuh ke pasangan calon incumbent itu.Melihat fakta itu, Didik mengaku tak gentar. Tidak hanya mengakui mendapat dukungan dari Hatta, sang profesor juga sangat percaya diri bahwa dukungan PAN ke Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli hanyalah di atas kertas alias tanpa dukungan riil partai."Yang di Foke (Fauzi Bowo-red) hanya kereta kosong. Kami sedang mempertimbangkan untuk membiarkan atau dicabut karena saya ketua DPP," kata Didik, Jumat (23/3). Klaim Didik ini diperkuat oleh Ketua DPP PAN, Bima Arya Sugiarto. Mantan pengamat politik itu secara terang-terangan mendukung Hidayat-Didik. Bahkan, dia menyebut dukungan internal partai kepada pasangan itu mengalir cukup deras."Kader bergairah untuk mendukung ketua DPP-nya menjadi wagub DKI," ujar Bima.Wakil Ketua Umum PAN, Dradjad Wibowo, juga tidak bisa menjamin suara konstituen partainya akan otomatis mengalir ke Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Menurut dia, dukungan riil pemilih PAN tergantung pendekatan pasangan tersebut."Kalau Foke tidak bekerja merebut hati konstituen PAN, ya mungkin saja para pemilih PAN lari dari dia," kata Dradjad.Sumber merdeka.com menyebutkan, dukungan PAN di atas kertas kepada Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli tidak lepas dari hubungan besan antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Hatta. Duet kader Demokrat itu jelas didukung langsung oleh SBY selaku ketua dewan pembina partai.Apakah Hatta terpaksa berkoalisi dengan sang besan? "Emang iya," kata sumber itu sambil tertawa.

Namun hal ini dibantah oleh Bima. "Saya kira bukan soal itu, ini terjadi karena proses yang sangat cepat  dan dinamis di detik-detik terakhir jelang pendaftaran," ujarnya.Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Arya Fernandez, menilai faktor besan bukan yang utama mempengaruhi dukungan resmi PAN ke Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Menurutya, hal itu juga karena DPW PAN DKI yang memang getol mendukung duet putra Betawi tersebut.Lepas dari faktor besan atau tidak, ujar Arya, Pilgub DKI ini merupakan dilema bagi PAN. Tidak hanya terpecah dua, dukungan pemilih partai matahari biru itu bisa jadi terbelah tiga, dengan asumsi mantan sekjen sekaligus deklarator PAN, Faisal Basri bersama pasangannya, Biem Benyamin, lolos verifikasi calon perseorangan.

Rekomendasi