Hari ini warga Timor Leste menggelar pemilihan presiden ketiga sepanjang sejarah negara itu. Terdapat 12 calon yang bersaing, salah satunya presiden petahana dan peraih Nobel perdamaian, Jose Ramos Horta.Saat dihubungi merdeka.com, Jumat (16/3), via telepon, Horta mengaku siap menerima apa pun hasil pemilu. Dia juga berpesan agar calon terpilih menjaga situasi Timor Leste tetap kondusif. "Siapa saja yang menang pada pemilihan besok harus tetap menjaga kondisi politik dan keamanan. Semua pihak harus siap menang atau kalah," ujar Horta.Timor Leste masih sering mengalami beberapa insiden kekerasan antar geng karena kemiskinan. Kekerasan terakhir terjadi bulan lalu, saat kantor komisi pemilihan umum dilempari bom molotov oleh orang yang tidak dikenal.Rakyat negara yang sangat bergantung pada pemasukan dari minyak bumi itu juga mulai gerah dengan keberadaan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dari Australia. Rencananya, setelah seluruh rangkaian pemilihan umum selesai, pasukan Negeri Kanguru itu akan ditarik bertahap sampai akhir tahun ini. Horta juga menyebut tidak ada kendala berarti selama persiapan pemilu sebulan terakhir. "Yang menjadi kendala adalah penyebaran logistik lantaran di sini sering hujan lebat," kata Horta.Horta merupakan presiden kedua setelah Kay Rala Xanana Gusmao, pada 2002. Dia terpilih lima tahun lalu. Ada 12 kandidat dalam pemilihan hari ini. Dari jumlah itu, empat calon terkuat adalah Ramos Horta, mantan panglima angkatan bersenjata Taur Matan Ruak, Ketua Partai Fretilin Fransisco Guteres, dan Fernando de Araujo (Ketua Parlemen dari Partai Demokrat). Setiap calon presiden harus mendapat lebih dari 50 persen suara untuk langsung menang satu putaran. Bila tidak ada yang mencapai jumlah itu, maka dua kandidat teratas akan maju ke putaran lanjutan dua pekan mendatang.
Horta: Pemenang pemilu harus jaga kondisi politik dan keamanan
Timor Leste masih sering mengalami beberapa insiden kekerasan antar geng karena kemiskinan.
Rekomendasi