Sebelum petualangannya berakhir di tangan satuan khusus Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat, Kamis (8/3), Rudy Kurniawan telah menggegerkan jagat anggur dunia. Pria 35 tahun asal Jakarta ini mendadak menghabiskan jutaan dolar, memborong anggur-anggur terbaik di pelbagai kota di Amerika.
Surat kabar Los Angeles Times melaporkan namanya mulai mencuat pada pertengahan 2000. Di setiap lelang anggur, dia selalu menghabiskan minimal USD 1 juta.Menurut catatan FBI, Rudy ke Amerika pertama kali pada 1995 dengan visa belajar. Dia dikabarkan kuliah di Universitas Negeri Northridge, California. Sampai ditahan kemarin, Rudy tinggal di kawasan pecinan, Distrik Arcadia, Los Angeles.Kepada kalangan pecinta anggur di Kota Los Angeles, tempatnya terlibat dunia anggur pertama kali, Rudy selalu mengenalkan diri sebagai putra pengusaha kaya asal Indonesia. Dia mengaku anak bungsu dan tidak diserahi tanggung jawab mengelola usaha. Selebihnya, tidak ada yang tahu siapa sebetulnya anak muda yang setiap membeli anggur di rumah lelang mewah hanya mengenakan kaus oblong dan celana jins ini. Bagi kalangan pecinta anggur, gayanya di lelang-lelang selama lebih dari satu dekade terakhir sungguh meresahkan karena merusak harga. Menurut Allen Meadows, pemimpin redaksi Burghound (majalah yang khusus meliput dunia anggur), Rudy bertanggung jawab meroketkan harga sebotol anggur tua biasa menjadi 20 kali lipat sejak dia memasuki pasar.Kepada Los Angeles Times saat wawancara khusus enam tahun lalu, Rudy menyatakan tidak berniat merugikan kolektor lain dengan membuat harga anggur jadi melangit. "Karena saya bukan kolektor, saya peminum," ujar Rudy. Sejak 2005, Rudy mulai merambah usaha jual-beli. Dia membuka tokonya di Naomi Avenue, Los Angeles, namun lebih aktif menjual berbotol-botol anggur langka di pelbagai kota lain, salah satunya New York. Bisnisnya terkenal karena dia juga tenar sebagai penggila anggur. Belangnya mulai terungkap saat lelang di New York empat tahun lalu. Saat itu, dia melelang 80 botol anggur jenis Ponsot yang katanya produksi 1929, padahal perusahaan itu baru berdiri pada 1934. Balai lelang Christie juga sempat kena tipu dayanya ketika lelaki lajang ini menjual mahal sebuah botol Château Le Pin 1982 palsu. Berbondong-bondong, ratusan kolektor yang sempat berbisnis dengannya meradang. Salah satu yang paling berang adalah miliarder William Koch. Dia menyewa detektif swasta sekaligus melaporkan Rudy ke polisi pada 2009.Hasilnya mengejutkan. Menurut koran New York Times, detektif yang disewa Koch menemukan nama asli lelaki itu adalah Zhen Wang Huang. Berlawanan dengan pengakuannya selama ini, dia diduga bukan orang Indonesia, melainkan warga Cina asli.Namun sesuai berkas gugatannya di Kejaksaan Distrik Manhattan, New York, terdapat keterangan Rudy merupakan warga Indonesia yang permohonan suakanya ditolak pemerintah Amerika pada 2001. Setelah sempat menghilang setahun, Rudy akhirnya dicokok satuan khusus kejahatan barang antik dan seni FBI. Jaksa bersiap mendakwanya dengan pasal berlapis. Mulai dari penipuan, pemalsuan, hingga pelanggaran imigrasi. Rudy terancam hukuman penjara sampai 20 tahun.