Ratusan Rumah Rusak Akibat Banjir Bandang Aceh Barat, BPBD Catat 261 Unit Terdampak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat merilis data terbaru dampak banjir bandang, mencatat 261 unit rumah warga mengalami kerusakan di lima kecamatan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ratusan Rumah Rusak Akibat Banjir Bandang Aceh Barat, BPBD Catat 261 Unit Terdampak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat merilis data terbaru dampak banjir bandang, mencatat 261 unit rumah warga mengalami kerusakan di lima kecamatan. (AntaraNews)

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Barat pada Rabu (26/11) lalu telah meninggalkan dampak signifikan bagi masyarakat setempat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat kini merilis data terbaru terkait kerusakan yang terjadi. Peristiwa ini menyebabkan ratusan unit rumah warga mengalami kerusakan parah di berbagai wilayah.

Menurut catatan BPBD, total 261 unit rumah warga tersebar di lima kecamatan terdampak langsung oleh bencana alam tersebut. Kerusakan yang dialami bervariasi, mulai dari kategori rusak berat, rusak sedang, hingga rusak ringan. Data ini disampaikan oleh Plt Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, pada hari Sabtu (06/12).

Sebagian besar kerusakan terpusat di beberapa desa yang dilalui aliran banjir bandang, mengharuskan warga menghadapi kerugian material. BPBD Aceh Barat terus berupaya melakukan penanganan serta penyaluran bantuan kepada para korban. Akses transportasi yang sempat terganggu juga menjadi fokus utama pemulihan saat ini.

Plt Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, menjelaskan bahwa dampak banjir Aceh Barat ini menyebabkan kerusakan bervariasi pada rumah-rumah warga. Ia menyatakan, "Ratusan unit rumah warga yang rusak ini bervariasi, mulai dari rusak berat, rusak sedang hingga rusak ringan." Dari total 261 unit rumah yang terdampak, 45 unit dikategorikan rusak berat, menunjukkan tingkat keparahan yang tinggi di beberapa lokasi akibat terjangan air bah.

Selain itu, sebanyak 102 unit rumah warga mengalami kerusakan sedang, yang memerlukan perbaikan signifikan agar dapat dihuni kembali. Kategori rusak sedang ini tersebar di beberapa desa yang menjadi jalur utama aliran banjir. Data ini menjadi acuan penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana.

Sementara itu, 114 unit rumah lainnya tercatat mengalami kerusakan ringan. Meskipun tidak separah kategori lainnya, kerusakan ringan tetap membutuhkan perhatian dan perbaikan agar tidak menimbulkan masalah lebih lanjut. Total keseluruhan data ini menggambarkan skala dampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

Kerusakan terparah akibat banjir bandang Aceh Barat banyak terjadi di Kecamatan Pante Ceureumen. Di Desa Jambak, enam unit rumah rusak berat dan 17 unit rusak sedang, sementara di Desa Canggai tujuh unit rusak berat dan 28 rusak ringan. Desa Lango juga mencatat lima rumah rusak berat dan satu unit rusak ringan.

Desa Lawet melaporkan sembilan unit rumah rusak berat dan 34 unit rusak sedang, sedangkan Pulo Teungoh memiliki satu unit rusak berat dan 45 unit rusak sedang. Desa Sikundo juga terdampak dengan lima unit rusak berat, tiga unit rusak sedang, serta 10 unit rusak ringan. Di Desa Keutambang, satu unit rumah warga mengalami kerusakan sedang akibat dampak banjir ini.

Kecamatan lain yang turut merasakan dampak banjir Aceh Barat meliputi Woyla Timur, dengan 60 unit rumah rusak ringan di Desa Pasie Ara. Di Kecamatan Sungai Mas, dua unit rumah rusak berat dan satu rusak ringan di Desa Lancong, serta satu unit rusak berat dan satu rusak ringan di Desa Tungkop. Kecamatan Arongan Lambalek mencatat 15 unit rumah rusak ringan, dan di Desa Meutulang, Kecamatan Panton Reue, delapan unit rumah rusak berat.

Menyikapi dampak banjir bandang Aceh Barat yang meluas, BPBD Aceh Barat terus bergerak cepat dalam upaya penanganan. Teuku Ronal Nehdiansyah menegaskan bahwa timnya fokus pada penyaluran bantuan ke titik-titik bencana yang membutuhkan. Ia menambahkan, "BPBD Aceh Barat hingga saat ini juga terus berupaya melakukan penyaluran bantuan ke sejumlah titik lokasi bencana alam, termasuk berupaya membuka akses transportasi yang tertutup akibat bencana alam."

Selain penyaluran bantuan logistik, BPBD juga berupaya keras untuk membuka kembali akses transportasi yang sempat tertutup. Banyak jalan yang terputus atau tertimbun material longsor akibat banjir bandang, menghambat distribusi bantuan dan mobilitas warga. Pembukaan akses ini menjadi prioritas untuk memperlancar proses pemulihan. Upaya ini menunjukkan komitmen BPBD dalam mitigasi dampak banjir.

Koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk memastikan semua korban mendapatkan penanganan yang layak dan proses rehabilitasi dapat berjalan efektif. Pemantauan kondisi lapangan juga terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi bencana susulan. Langkah-langkah ini penting untuk memulihkan kondisi pasca-bencana dan mengurangi risiko dampak banjir di masa mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi