Puluhan Perajin Batik Jateng-DIY Ikuti Pelatihan Desain dan Pewarnaan
Merdeka.com - Puluhan pelaku usaha batik dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta mengikuti pelatihan yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo, Rabu (13/4). Pelatihan khusus untuk desain dan pewarnaan batik modern tersebut dilakukan di Rumah Batik Gunawan Setiawan, Kampoeng Batik Kauman, Solo.
Melalui pelatihan yang dilaksanakan mulai hari ini hingga Kamis (15/4) tersebut diharapkan dapat memacu kompetensi para perajin batik sekaligus mendorong terciptanya inovasi produk.
"Ada 24 perajin yang ikut pelatihan yang kita adakan. Fokus materi pelatihan yang diberikan adalah desain, motif dan pewarnaan kekinian yang digemari pasar dalam negeri khususnya milenial dan global," ujar Kepala KPwBI Solo, Nugroho Joko Prastowo, di sela-sela pelatihan.
Joko menyampaikan, pelatihan tersebut juga merupakan rangkaian acara Kenduren (Berkembang dan Berinovasi Menjadi UMKM Keren) yang dilaksanakan April ini. Pelatihan yang dilakukan di sentra batik, dimaksudkan untuk menunjukkan jika sesama perajin batik saling memberikan dukungan.
"Batik itu merupakan komoditas yang unik. Batik itu warisan budaya yang tidak boleh punah. Selain itu juga sebagai komoditas harus mengikuti perkembangan," katanya.
Joko menilai, jika perajin batik tidak mengikuti perkembangan, maka karya yang dihasilkan juga tidak akan laku di pasaran. Menurut dia, pengembangan batik perlu dilakukan dengan masuk ke fashion dan pewarnaan. Dalam pelatihan tersebut juga diberikan pelatihan pewarnaan dengan bahan alami.
"Perajin batik terus kita dorong untuk berinovasi mendapatkan berbagai varian warna alam. Kita memanfaatkan daun dan kayu yang cukup melimpah seperti dari pohon mangga, kulit manggis, mangrove, kersen, dan lainnya untuk metode pewarnaannya," jelasnya.
"Kalau dulu itu batik hanya buat kain jarik saja. Tetapi sekarang bisa untuk fashion,” imbuhnya.
BI Solo, dikatakannya, konsern terhadap batik karena merupakan warisan budaya dan memiliki peran ekonomi besar. Dalam ekonomi kreatif, lanjut dia, ada 3 subsektor yang mendominasi. Yakni kuliner, fashion di dalamnya ada batik dan kerajinan.
Salah satu narasumber pelatihan, Bayu Aria yang juga pengusaha batik dan pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyampaikan, materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut mulai dari pengenalan segmen pasar hingga mampu menciptakan produk.
"Contohnya saat ini warna-warna pastel lebih digemari generasi milenial. Pasar batik yang efisien dan ramah lingkungan terus meningkat," terang Bayu yang dikenal dengan produk motif Batik hoko_ntul.
Pengusaha batik dari Solo, Gunawan Setiawan menyambut baik pelatihan yang diinisiasi BI Solo itu. Apalagi selama pandemi Covid-19, perajin batik sangat terpukul. Bahkan hampir di titik nol.
"Kemarin saya diskusi dengan BI Solo dan pelatihan seperti ini memang dibutuhkan karena batik butuh regenerasi," katanya.
Salah satu peserta pelatihan, Nyoto Mulyono yang juga perajin Batik Girilayu, Matesih Karanganyar mengatakan materi pelatihan yang diberikan BI Solo sangat dibutuhkan bagi pelaku usaha UKM batik.
"Kalau di tempat kami selama ini memproduksi batik tradisional dan sudah memiliki konsumen tersendiri. Sekarang mulai menyasar ke ukonsumen milenial, sehingga materi pelatihan yang kita dapatkan ini bisa langsung diterapkan," pungkas dia.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya